Selasa, 12 Juli 2011

“DIPIJIT” TUKANG PIJIT KELILING

SELAIN  Suwondo tukang pijitnya Presiden Gus Dur, tukang pijit lainnya yang bernasib mujur mungkin Wandi, 45, dari Wonogiri (Jateng). Jika Suwondo dulu bisa bikin heboh Istana, Wandi berhasil bikin heboh warga Kaloran Lor, Giritirto, karena ketangkep basah sedang menyetubuhi pembantu rumah keluarga Karsadi.
Di Desa Kaloran Lor, Wandi memang dikenal sebagai tukang pijit keliling. Siapa saja orangnya, tanpa melihat golongan maupun partainya, boleh memanggil dia untuk jasa pijit memijat. Cara dia mengurut memang enak, sehingga banyak yang jadi pelanggannya. Hebatnya, banyak juga kaum wanita yang mau dipijat olehnya. Karena dalam jejak rekamnya selama ini, tak pernah terdengar kabar bahwa Wandi suka curi-curi “esempatan” saat memijat kaum Hawa. Pendek kata, lelaki ini bekerja sesuai kode etik profesi tukang pijit.
Mungkin Wandi memang selalu berbayang-bayang hendaknya sepanjang badan. Dia tak mau kurang ajar pada pelanggannya, yang status sosialnya jauh di atasnya. Apalah artinya si tukang pijit, jika berani kurang ajar pada wanita yang jadi langganannya? Bisa-bisa sumber rejekinya akan mati, karena tak ada lagi orang yang mau dipijat olehnya. Itu artinya, kendil di rumah akan tergelimpang, gara-gara ngglimpangke (menelentangkan) wanita yang dipijitnya.
Wandi baru berani sedikit kurang ajar, manakala menghadapi konsumen kalangan pembantu, karena dia merasa dalam status yang setara. Dan bukankah ketua Golkar Priyo Budi Santosa pernah bilang: kalau kita berkoalisi haruslah dalam posisi yang setara, tidak ada yang merasa lebih tinggi dan lebih rendah. Nah, Wandi, tukang pijat dari Wonogiri ini, berusaha menerapkannya secara konsekuen!
Adalah Tukinah, 33, pembantu rumahtangga keluarga Karsadi, warga Kaloran Lor. Dia pembantu yang lumayan menthel (baca: genit) di mata tukang pijat Wandi. Sebab ucapan dan gerak geriknya sering sangat “mengundang”. Kebetulan wajah dan bodinya juga lumayan, sehingga sebagai lelaki normal, sekali waktu Wandi ingin mendaya gunakan konsumen yang satu ini secara optimal dan tepat guna.
Dua seminggu sekali Tukinah memang minta dipijat Wandi di kamarnya, yang dekat dapur dan kamar mandi. Karena kegenitan sang pembantu, saat memijat Wandi jadi suka nakal. Mijitnya suka memilih bagian tertentu dan ternyata Tukinah diam saja, kecuali malam merem-merem keenakan. Dilihat situasi demikian mantap terkendali, Wandi pun jadi kesetanan. Kini bukan lagi pijat-memijat, tapi malah berhubungan intim sebagaimana layaknya suami istri. “Sori, remnya kurang pakem…,” kata Wandi setelah entuk-entukan (memperoleh segalanya).
Sejak itu Wandi dan Tukinah jadi ketagihan. Jika rumah Karsadi majikannya sangat kondusif situasinya, mereka pun “pijat istimewa” dengan segala aspeknya. Dan karena selama ini aman-aman saja, beberapa hari lalu pukul 01.00 Wandi nampak masih sibuk “mijat” Tukinah di kamarnya. Nah, kesialan itu pun tiba. Pak Karsadi pemilik rumah malam itu memergokinya, sehingga dia memanggil para pemuda dan RT untuk menggerebeknya.
Penggerebekan dilakukan, dan penduduk masih berhasil menangkap basah Wandi dalam kondisi serba “ketanggungan”. Kalau tak dicegah pemilik rumah, tukang pijat itu niscaya babak belurlah digebuki warga. Mulanya mau dikawinkan saja, tapi karena keduanya punya keluarga masing-masing, akhirnya Wandi hanya didenda Rp 1 juta. Tak jelas, uang itu untuk kas RT, atau diberikan kepada Tukinah selaku gendakannya.
Terpaksa rogoh dompet, gara-gara urusan “dompet” babu. (SP/Gunarso TS)
Bookmark and Share

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar