Minggu, 14 Agustus 2011

Menantuku Yang Nakal

Pulangnya para TKI dari malaysia mengingatkanku akan pengalaman seksku di kapal laut. Cerita seks yang tidak bisa kuduga dan hubungan itu terus bersemi sampai saat ini.
Melihat berita di TV tentang pulangnya para TKI dari Malaysia dengan kapal-kapal besar, aku jadi teringat kisahku yang juga terjadi di kapal besar semacam itu. Sekitar lima tahun lalu aku mendapat telegram dari anak perempuanku y ang hendak melahirkan anak pertamanya sebulan lagi. Sudah hampir setahun ia ikut suaminya yang kerja di Irian Jaya dan ia sangat berharap aku dapat menungguinya saat dia melahirkan. Suaminya akan menjemputku dalam waktu 1-2 minggu itu setelah selesai urusan kantornya. Benar saja, dua minggu kemudian menantuku, Bimo, datang. Ia sedang mengurus pekerjaan di Jawa Timur sekitar dua minggu. Setelah selesai, ia menjemputku dan masih sempat menginap selama tiga hari sebelum kapal berangkat dari pelabuhan Tanjung Perak.
Hari H pun tiba. Pagi-pagi diantar anak bungsuku kami berangkat ke Tanjung Perak yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan dari kota kami. Sejak suamiku meninggal memang aku jadi sering pergi berkunjung ke anak-anak yang tersebar di beberapa kota. Untuk anakku yang di Irian Jaya ini merupakan kunjunganku yang pertama, maklum jaraknya jauh sekali. Menurut menantuku, lama perjalanan laut sampai 3 hari 2 malam.
Sampai di pelabuhan Bimo segera mengurus tiket yang sudah dipesannya. Kemudian kami naik ke kapal besar itu. Penumpang kapal yang ribuan jumlahnya membuat para pengantar tidak bisa ikut naik, termasuk anak bungsuku. Baru sekali itu aku naik kapal laut. Sungguh mengejutkan karena penumpangnya ribuan orang dan sebagian hanya duduk di dek atau lorong-lorong kapal. Sebagian lagi menempati bangsal seperti kamar asrama dengan tempat tidur raksasa yang muat ratusan orang. Kuikuti langkah Bimo melewati mereka, bahkan terpaksa melangkahi beberapa orang, hingga sampai di bagian ujung kapal yang merupakan deretan kamar. Hanya sekitar 1 0 kamar, itupun ukurannya Cuma sekitar 3×3 meter. Ini kuketahui setelah Bimo membuka pintu kamar dan kami memasukinya.
?Ini kamar kita, bu,? kata Bimo sambil masuk lalu menaruh seluruh bawaan kami. Dengan canggung aku masuk. Yang nampak memenuhi hampir separuh ruangan adalah ranjang kayu yang muat dua orang serta meja kecil pendek. Perlahan aku duduk di ranjang dan menyibak gorden di atasnya. Nampak air laut di kaca bulat dan tebal itu. Iiih ternyata kami berada di bawah permukaan laut.
?Maaf, bu, harga tiket kamar di atas mahal sekali, terpaksa saya pilih yang di sini,? ujar Bimo merasakan kegalauanku.
?Ah, tak apa-apa Bim, daripada harus tidur di dek kapal,? sahutku.
?Sebaiknya kita sekarang mandi dulu saja, bu. Kalau terlambat nanti antrinya lama sekali.?
Benar kata Bimo, sewaktu sampai di deretan kamar mandi (ada 6) sudah ada antrian sekitar 2-3 orang di setiap kamar mandi. Mandi pun harus buru-buru dan biar praktis aku langsung pakai daster saja.
Sekitar jam 2 siang kapal mulai bergerak. Setelah puas melihat-lihat suasana kapal yang dijejali ribuan orang, persis seperti pengungsi, akupun kembali ke kamar. Bimo masuk ke kamar sambil membawa beberapa makanan dan minuman. Sekitar jam 5 sore terdengar bel dibunyikan oleh awak kapal.
?Itu pertanda kita harus antri makan malam, bu,? jelas Bimo. Dan sekali lagi kami harus berbaris antri mengambil nasi dengan lauk sayur dan sedikit ikan laut. Nampan, piring dan sendok aluminium yang kami pakai mengingatkanku akan para napi di penjara. Ternyata beginilah pelayanan kapal laut kita. Selewat jam 7 malam makanan tidak disediakan lagi. Membayangkan bagaimana ribuan nampan, piring dan sendok itu dicuci dengan air yang sangat terbatas aku jadi sulit menelan makanan yang sudah di mulut.
Bimo mengembalikan peralatan makan sementara aku ke kamar mandi untuk cuci dan pipis. Cape sekali ha ri itu dan aku perlu segera tidur malam itu. Kapal yang bergoyang-goyang karena ombak besar membuat kepalaku pening.
?Silahkan ibu tidur dulu. Saya masih perlu menyiapkan laporan untuk kantor,? kata Bimo sambil membuka berkas-berkasnya di meja kecil sambil duduk di lantai kapal yang berkarpet. Aku pun naik ke ranjang mengambil posisi mepet ke dinding kapal. Sekilas terlintas di benakku, ?Aku, janda usia 45 tahun, tidur seranjang dengan menantuku?? Tapi segera kutepis mengingat ini dalam keadaan terpaksa dan sopan santun Bimo selama ini. Untuk menyuruhnya tidur di lantai kapal aku tak tega.
Entah berapa lama terlelap, aku terbangun karena merasa ada sesuatu yang memelukku. Saat kubuka mata, kamar gelap sekali, sementara posisi tubuhku sudah telentang. Segera aku menduga Bimo mau berbuat yang tidak senonoh padaku dan aku siap berontak. Tapi beberapa saat kurasakan tidak ada gerakan dari tubuhnya dan malah terdengar dengkur halusnya. Ternyata Bimo tertidur.
Bagaimana ini? Apa aku harus menyingkirkan tangannya dari atas perut dan dadaku (yang tak berbeha seperti kebiasaanku kalau tidur) serta kakinya yang menindih paha kananku? Aku tak tega membangunkannya dan jadi serba salah dengan posisi yang demikian itu. Aku tak bisa menyalahkannya karena ia tertidur dan ranjang kami termasuk berukuran pas-pasan untuk dua orang. Akhirnya aku pilih diam saja dan bertahan pada posisi itu meski dari gesekan kulit akhirnya kuketahui kalau Bimo saat itu bertelanjang dada. Dan persentuhan paha kami juga menandakan bahwa Bimo tidak memakai celana panjang. Mungkin dia hanya memakai celana pendek atau justru celana dalam saja, pikirku. Aku dag -dig-dug membayangkan dia tidur telanjang.
Kupejamkan mata dan berusaha tidur lagi sambil berharap Bimo melepas pelukannya sehingga aku bisa berguling ke dinding kapal memunggunginya. Namun sampai terkantuk-kantuk harapanku tak terkabul. Sampai aku terlelap lagi tangan dan tubuh kekar Bimo masih menelangkupi dadaku dan pahanya menindih pahaku. Mungkin ia tengah membayangkan tidur dengan istrinya, pikirku. Aku semakin bisa memaklumi dan tidak begitu peduli lagi dengan posisi tidur kami.
Beberapa lama kemudian, aku menggeliat dan terbangun lagi. Kini tubuh kekar Bimo ternyata sudah ada di atasku, menindihku. Bahkan terasa pahaku dikangkangkannya sehingga celana dalamnya tepat di atas celana dalamku karena dasterku sudah tertarik ke atas. Tonjolan penisnya yang tegang terasa sekali. Remasan tangannya di payudaraku, meski masih tertutup daster, membuatku meronta.
?Bimo! Apa-apaan ini? Aku ibu mertuamu, Bim!? Ucapku setengah berteriak takut terdengar kamar sebelah sambil tanganku menolakkan dada telanjangnya.
?Ugh, maaf bu, kukira tadi aku tidur denga istriku? Sudah hampir sebulan aku puasa, bu??
?Iya, tapi jangan dilampiaskan ke aku dong,? kataku jengkel sambil menepis tangannya yang nakal. Sementara selangkanganku tak berkutik terpaksa menerima dan merasakan tekanan penisnya yang terbalut celana dalam.
?Ak? aku cuma ingin memeluk-meluk saja kok, bu? Tidak sampai itu?? jawabnya polos.
?Aku kuatir kamu lupa diri? lalu memperkosaku?? belaku sambil berusaha menyingkirkan pahanya tapi tenagaku tak cukup kuat.
?Sumpah, bu? Aku cuma ingin memeluk-meluk saja dan tidak bakalan memperkosa? Kalau aku mau pasti dari tadi celana dalamku dan ibu sudah kulepas?? balasnya.
Aku berhenti berontak sambil memikirkan kata-katanya. Benarkah ini terjadi hanya karena dia sedang bernafsu setelah sebulan tidak ketemu istrinya? Egh.. ugh? kini bukan hanya remasan, tapi malah gigitan kecil yang terasa di putting kananku yang masih tertutup daster. Puting kiriku terasa dipelintir kecil. Greeeng? kurasakan nikmat sesaat. Sudah lama aku tak merasakan kenikmatan ini. Ada keinginan untuk berontak namun ada juga dorongan untuk menikmati kemesraan ini.
?Benar ya, Bim. Janji, tidak boleh copot celana dalam?? tantangku.
?Iya, bu, aku janji tidak akan mencopot celana dalam kita??
Hshhh? hsshh? perlahan aku semakin menikmati cumbuannya. Rasanya ingin mengulang kenikmatan saat suamiku masih ada. Meski agak canggung, pelan-pelan tanganku malah memeluk punggung Bimo yang menaikkan posisinya hingga kepala kami sejajar. Ia mulai mengecup-ngecup wajahku. Aku berusaha melengos tapi tangannya sudah memegang kedua pipiku dan bibirnya mendarat di bibirku. Ufh? bibirku disedotnya, lidahnya memasuki mulutku. Mula-mula aku pasif, tapi lama-lama ikut aktif juga bersilat lidah. Kami saling sedot dan isep lidah dan bibir.
?Bu, dasternya dilepas saja ya,? mendadak Bimo berkata setelah kami lelah berciuman.
?Ingat janjimu, Bim..? kataku.
?Aku kan janji tidak melepas celana dalam kan, bu?? jawabnya sambil perlahan tangannya menari k dasterku ke atas. Entah kenapa aku tak mampu menolak dan hanya pasrah ketika daster itu dilempar entah kemana, dan kami tinggal berbalut cd. Yang kulakukan kemudian hanya memejamkan mata ketika tubuh kekar itu memelukiku, menghisapi susuku kiri kanan dan menekan-nekan selangkanganku, menjilati sekujur tubuh. Aku menggelinjang kenikmatan sambil mempererat pelukanku di punggungnya. Oooh? aku malah terlena. Tubuh kami basah mandi keringat.
Pantatku mendadak terangkat ketika salah stau jari Bimo mengelus bibir vaginaku yang masih tertutup cd.
?Bim, jangan??
?Aku hanya mengelus dari luar kok, bu??
?Nanti aku jadi terangsang, Bim??
?Nggak apa-apa kan, bu? Saat ini kita saling memuaskan saja deh, bu. Aku akan bikin ibu orgasme tanpa membuka cd ibu??
Benar saja, sejurus kemudian sensasi hebat kurasakan ketika gesekan dan pijatan jemari Bimo di bawah perutku semakin liar. Aku segera merasa ada sesuatu yang mengalir keluar dari vaginaku.
?Ibu sudah basah ya?? Tanya Bimo nakal. Aku jadi malu dan pilih diam saja sambil terus menikmati rabaan gila itu. Ya, aku memang sudah hampir orgasme dan Bimo tahu itu. Serta merta ia memutar posisi tubuhnya hingga mulutnya dapat menjilati cd di bagian selangkanganku. Kakiku dinaikkannya dan tubuhku agak diseret turun, sementara bagian cd-nya tepat di depan wajahku.
Uh? uh? sambil memegang kedua pahaku Bimo memainkan lidahnya sedemikian hebat. Menjilati paha, perut lalu semakin turun hingga tepat di bibir vaginaku. Ia tak canggung menggigit-gigit cd ku dan menekannya dengan lidah sehingga masuk.. Aku semakin basah. Banjir. Ooh? Bim? Bim? Aku mulai mengejan berkejat-kejat, menumpahkan semuanya sampai merembesi cd dan Bimo menghisapinya kuat.
Tangan kananku dipegang Bimo dan ditaruhnya di gelembung cd-nya yang berisi penis tegang itu. Tanganku diremas-remaskannya di benda tumpul lunak-keras yang panjangnya sekitar 20 cm itu. Aku yang semula canggung jadi makin terbiasa, malah akhirnya terbawa nafsu untuk menciuminya meski dari luar cd. Bimo mendesis ketika barangnya kujilat dan kukocok-kocok dari luar.
?Ak? aku mau keluar juga, bu?? erangnya ketika tanganku bergerak lebih kuat dan? sekejap kemudian kurasakan penisnya menekan kuat bergetar-getar memuncratkan isinya di dalam cd. Barang itu terus kuperas habis sampai akhirnya melemas dan tubuh Bimo menggelosoh kecapaian dan dagunya diletakkan di vaginaku. Satu sama! Dia ejakulasi sekali, aku juga orgasme sekali.
?Cape ya, bu?? tanyanya sambil memelukku. Dengan manja aku menyorongkan kepala ke dadanya yang berbulu. Tangannya segera meremas susuku lagi.
?Sudah dulu, Bim?? bisikku sambil menghentikan remasannya.
?Berarti nanti lagi ya, bu?? Aku tak menjawab dan cuma memberinya remasan kecil dipenisnya yang telah mengecil. Oh, nikmatnya seks?
?Ini jam berapa, Bim??
?Paling masih sekitar jam 12 malam, bu? Masih dua hari lagi kita sampai? Aku akan puasi ibu selama dua hari ini? Kita tidak perlu keluar kamar??
Gila, pikirku! Selama 2 hari 2 malam main seks dengan Bimo? Apa aku bisa tahan untuk tidak melepas celana dalam? Mungkin aku masih tahan, tapi Bimo? Namanya juga laki-laki, kalau nafsunya naik pasti main paksa. Bagaimana kalau aku jadi hamil? Sudah lama aku tak minum pil KB lagi. Aku merinding manakala membayangkan dihamili Bimo. Tapi aku tak mau lepas juga dari pelukannya. Tak peduli tubuh kami bersimbah keringat dan seprei ranjang acak-acakan.
Malam pertama itu kami ulangi tiga kali lagi pergumulan nikmat itu. Beruntung malam itu kami masih kuat bertahan tak lepas cd, meski cd yang kami pakai sudah kuyup terkena air mani berkali-kali. Kami tak dengar lagi bel makan pagi karena saat itu masih terlelap. Bangun sekitar jam 10 siang kudapati tubuh kami masih berpelukan. Susuku yang berbeha nomor 36 menempel lekat di dadanya. Cahaya remang-remang dari jendela kaca membuat wajahku memanas, malu. Kalau semalam kami tak saling melihat wajah karena gelap aku masih bisa menahan malu, maka siang ini kami harus bertatap muka. Kuperhatikan Bimo yang terpejam. Gila! Tubuhnya benar-benar seperti Bima dalam pewayangan. Besa r, kekar agak hitam dengan rambut di dadanya. Dadaku berdesir setiap kali rambut itu menerpa putingku. Perlahan kulepaskan diriku dari pelukannya dan dia kudorong sampai telentang. Tonjolan di balik cd-nya dan helai-helai rambut yang mencuat dari cd itu menjanjikan suatu kenikmatan yang?. ah, mestinya tak boleh kubayangkan. Dan beruntung memang semalam aku belum merasakannya kecuali dari luar cd. Aku tak bisa membayangkan barang itu menusukku. Perlahan aku menuruni ranjang.
?Mau kemana, bu?? Mendadak Bimo terbangun dan menarik tubuhku kembali dalam pelukannya.
?Mau mandi, Bim,? jawabku.
?Nanti sajalah, bu, agak sore saja. Hari ini aku mau kita di ranjang ini saja. Kalau ibu lapar bisa makan roti yang sudah kubeli.? Aku tak berdaya ketika Bimo menggulingkan tubuhku kembali ke ranjang. Menelentangkanku lalu memanjat dan menunggangikuku lagi. Ufhh? lagi-lagi tetek montokku jadi bulan-bulanan mulutnya, demikian pula tekanan-tekanan pada vaginaku membuat pahaku semakin terkangkang lebar. Sedikit demi sedikit gairahku meletup lagi, terlebih setelah merasakan tonjolan zakar Bimo menggesek-gesekku dengan ketat.
?Bim, lama-lama aku nggak kuat kalau dirangsang begini terus?? bisikku.
?Kalau nggak kuat ya tinggal dikeluarin saja to, bu,? jawabnya sambil mencucup putingku dan menyedotnya.
?Maksudku, aku takut nanti jadi kepingin buka cd? egghh? jangan keras-keras, Bim?? desahku. Bimo mengurangi tekanan di vaginaku.
?Aku kan sudah janji tak akan buka cd ibu. Tapi kalau ibu dengan sukarela buka sendiri ya bukan salahku lho? hehehe?? guraunya sambi mencium bibirku.
?Untuk variasi, coba deh ibu di atas? tolong diisepin tetekku dong, bu?? pintanya manja. Aku mandah saja ketika ia memelukku lalu menggulingkan tubuhnya hingga telentang dan aku menindihnya. Dibimbingnya kepalaku ke putingnya. Pelan kujilat-jilat lalu kuisap.
?Yang kuat, bu??erangnya sementara tangannya bergerak turun ke arah pantatku. Meremas dan menekan-nekannya sambil mengayun zakarnya ke atas sehingga bertemu dengan vaginaku meski masih terbungkus cd. Sejenak kemudian pahaku dibukanya dengan dua tangan lalu tangan itu mulai mengobok-obok daerah sensitifku itu. Sebentar saja aku kembali basah.
?Bim, oh Bim.. aku mau keluar,? desisku tak tahan. Namun Bimo mendadak menghentikan gerakan tangannya sehingga aku blingsatan.
?Teruskan, Bim,? pintaku sambil meletakkan tangannya di memekku lagi, tapi ia tetap diam.
?Jangan buru-buru, bu. Makin lama makin nikmat kan?? godanya membuatku tak sabar. Nafsuku yang sudah di ubun-ubun minta penuntasan segera tapi Bimo sengaja menggodaku. Entah dapat kekuatan dari mana tiba-tiba aku jadi beringas. Kududuki perut Bimo lalu kuambil tangan kanannya, kupilih telunjuknya lalu kubawa ke arah vaginaku. Kusisipkan jari itu di sela-sela cd ku dan segera kumasuk kan ke liang vagina.
?Bim, tolong kau puasi aku dengan jarimu? Aku nggak tahan lagi?? Kutusuk-tusukkan jari Bimo dalam-dalam. Dan setelah kurasakan ia mulai menggerakkan jarinya keluar masuk, aku lalu meneletangkan tubuh ke belakang, sampai kepalaku bertumpu pada pahanya. Ugh? egh? kunikmati kocokan jari Bimo di vulvaku. Kurasakan cairanku menderas. Mataku membeliak menikmati surga dunia itu. Gilanya, kemudian aku merasa pahaku ditarik ke atas dan? sekarang bukan lagi jari Bimo, melainkan lidahnya yang yang menusuk-nusuk memasuki vaginaku. Ia memang tidak membuka cd-ku, hanya menyibakkan bagian bawahnya lebar-lebar.
?Seeer? cret? suuur?? aku sampai ke klimaks. Pantatku berkejat-kejat mengejan gemetaran dan Bimo menelan semua maniku sampai aku lemas. Ia terus menyedot dan menjilat-jilat. Sungguh edan! Tubuhku terjelepak di pahanya dengan nafas ngos-ngosan. Namun kurasakan jemari Bimo menggantikan lidahnya menusuki lubang memekku. Tidak hanya satu jari, tapi 2 kadang 3 jari masuk bareng!
?Cukup, Bim..? pintaku.
?Belum, bu,? jawabnya sambil terus merangsang klitorisku, ?wanita biasanya bisa mencapai orgasme berkali-kali. Aku mau buktikan itu,? katanya.
Tak menunggu lama, ucapan Bimo terbukti. Syahwatku memuncak lagi dan cairanku mengucur lagi. Bimo mengerjaiku dengan cara itu sampai aku empat kali orgasme. Apa ia juga melakukan hal ini pada istrinya, anakku?
?Nah, sekarang terbukti aku lebih kuat kan, bu? Aku belum sekalipun buka cd tapi ibu malah memaksaku mengocok vagina ibu??
?Aku benar-benar tak kuat, Bim?Sudah bertahun-tahun aku tak pernah merasakan kenikmatan dan sekarang kamu merangsangnya terus sejak semalaman. Siapa bisa tahan??
?Apa itu berarti ibu tidak mau pakai cd lagi??
?Aku tetap pakai dan kamu juga. Aku takut hamil??
Setelah empat kali orgasme berturut-turut, tulang-tulangku seperti dilolosi. Pelan kugeser tubuhku turun dari ranjang mengambil cd baru dari tas lalu tanpa sungkan kupakai di depan Bimo.
?Kamu juga harus ganti cd baru, Bim, kan sudah bau bekas sperma kemarin kan..?
`?Iya, iya, bu? sekalian aja nanti waktu mandi. Sekarang aku ingin ibu ganti memuaskanku??
Tangan Bimo menggapaiku dan mendudukkan pantatku tepat di atas zakarnya. Kugoyang-goyang pantatku sampai Bimo mendesis-desis sambil meremasi tetekku. Kupercepat rangsanganku pakai tangan. Kugenggam zakar di balik cd itu dan kukocok-kocok sampai 15 menit barulah kemudian Bimo memelukku erat-erat sambil menyemburkan sperma di dalam cd nya. Setelah habis kuperas, ia memelukku dan menggulirkan tubuh kami ke ranjang. Kami terdiam. Kudengar nafasnya agak memburu. Kami benar-benar capai berpacu dalam birahi.
Bel makan siang berbunyi tapi kami tetap tak beranjak keluar kamar. Kami hanya makan roti dan minum minuman kaleng yang dibeli Bimo, entah apa tapi rasanya agak hangat di badan. Selama ini kami masih bertahan pakai cd.
?Aku akan berusaha sampai ibu buka cd sendiri,? tekadnya sambil mengecup dan menggigit-gigit telingaku, mengecupi wajahku, menciumi bibirku, menjilati dagu, leher, dada, menyedoti tetekku kiri-kanan, turun terus sampai aku menggelinjang ketika lidahnya sampai di perutku, pusar dan terus turun. Menyelip-nyelip di cd di daerah selangkanganku. Menyentuh-nyentuh lubang vagina, menerobos sampai klitorisku dapat diemut dan dimainkan dengan lidahnya.
Uuffgghh? kurasakan nikmat mengalir dari selangkangan sampai ke kepalaku. Kutekan kepala Bimo keras-keras. ?Aa? aku nggak kuat, Bim? hsshh? hsshhh.. enaaak banget? nikmaaat?? tanpa sadar tanganku beralih ke cdku dan cepat melepasnya. Bimo membantuku melepas cd itu setelah melewati paha. Kini aku bugil gil dengan paha ngangkang dijilati menantuku! Suur? cret?cret? aku orgasme lagi dengan paha ngangkang berkejat-kejat. Mungkin ini yang ke-10 kali sejak kemarin. Dan lagi-lagi Bimo melahapnya dengan ganas, menyedot, mengisapku sampai kering.
?Terbukti, kan, ibu sudah buka cd sendiri,? bisiknya sambil menaikiku lagi hingga bibirnya mencapai bibirku dan selangkangannya menekan vaginaku. ?Sekarang ibu akan kupaksa membuka cdku juga?? desisnya samibl menekan-nekan dan memutar-mutar tonjolan cdnya ke vaginaku. Batang besar yang tercetak di cd itu sekarang masuk memanjang di bibir vaginaku. Digesekkannya naik turun membangkitkan birahiku lagi. Remasan di tetekku dan mungkin pengaruh minuman kaleng tadi mempercepat syahwatku naik lagi.
?Ja?jangan, Bim? Jangan perkosa aku? nanti hamil?? erangku sambil memelukkan pahaku ke pahanya dan tanganku ke punggungnya, tak kuat merasakan rangsangan yang melanda.
?Tidak, bu? tapi ibu sendiri yang bakal minta kuperkosa? Ibu ingin zakarku masuk ke memek ibu, kan??
?Jang? jangan, Bim? eegghhh?? aku harus mengejan lagi hendak mengeluarkan mani. Namun mendadak Bimo berbalik dan membuat posisi 69. Lidahnya kini bebas memasuki vaginaku tanpa halangan cd, sedangkan tonjolan besar zakarnya tepat di depan wajahku yang mau tak mau terpaksa kupegang supaya tidak menekan wajahku terlalu kuat. Berdenyut-denyut benda tumpul kenyal itu di genggamanku. Kukocok-kocok dan, karena ukuran cdnya yang kecil, membuat kepala zakar itu sekarang muncul di perutnya.
?Jilat, bu? isep?? pintanya sambil mengarahkan tonjolan itu ke mulutku. Aku yang sudah tak mampu berpikir jernih perlahan tapi pasti menuruti permintaan gilanya yang belum pernah kulakukan pada suamiku sekalipun. Ufh.. kukulum-kulum kecil ujung penisnya dan membuat benda panjang itu semakin keluar dari cd, seperti ular. Kupegang batang ular itu sementara kepalanya masuk ke mulutku semakin dalam. Semakin dalam dan semakin bergelenyar, berkejut-kejut di mulutku. Agar lebih leluasa, cdnya semakin kuturunkan dan sekejap kemudian tanpa sadar cd itu sudah kulepas dari pahanya! Lagi-lagi Bimo membuktikan keampuhan rangsangannya pada tubuhku. Kocokan zakarnya di mulutku semakin cepat, cepat dan craaat croot crooot! Spermanya kontan memenuhi mulutku, ada yang tertelan, ada yang meleleh keluar dari bibirku? Sementara bibir bawahku pun memancarkan maninya lagi bertubi-tubi? disambut oleh mulut Bimo yang menampungnya sampai tuntas. Tuntas tas, sampai kami berdua terjelepak kecapaiannya di ranjang. Gemuruh dada dan sengal-sengal nafas kami memenuhi udara kamar mesum itu.
?Thanks ya bu. Ibu sudah buka cdku, berarti aku boleh melakukan apa saja dengan penisku pada ibu kan?? tanyanya menggodaku.
?Ta? tapi jangan kau hamili aku, Bim??
?Memang ibu masih bisa hamil??
?Masih, Bim? meski sudah 45 tahun aku masih mens??
?Ya, nanti kita atur sajalah, bu? yang penting aku boleh masukkan penis ke sini kan?? rajuknya sambil mengelus vaginaku dan membawa tanganku memegang penisnya.
?Tap? tapi pelan-pelan saja ya Bim dan? jangan dikeluarkan di dalam?? akhirnya aku memenuhi desakan nafsunya.
?Thanks, bu,? katanya lagi sambil mengecupku dan menunggangiku lagi. Mengangkangkan pahaku lagi lalu memacuku. Bagai joki tak kenal lelah. Aku pun rela jadi kuda pacu lagi. Terlebih setelah merasakan barang panjang itu berkembang lagi bergerak-gerak di selangkanganku. Menusuk-nusuk mencari jalan masuk.
?Bim, egh, Bim? jangan masukkan Bim..? aku masih takut-takut. Tapi Bimo tak peduli dan tetap mengarahkan kepala zakarnya ke vaginaku. Menggosok-gosok pintu lubang, menjujut-jujut mau masuk. Kurapatkan paha, tapi tangan Bimo cepat membukanya lagi, menekan ke kiri-kanan dan bleess? zakar panjang itu ambles ke dalam memekku yang licin penuh lendir mani.
?Bim, gila kamu!? Badanku melenting ke atas memeluknya, merasakan sensasi gila di selangkangan. Yah, akhirnya sambil duduk kunikmati kocokan zakar Bimo yang memaju-mundurkan pantatku. Sakit, nikmat, nafsu syahwat campur jadi satu.
?Bim? Bim? jangan keluarkan di dalam?? aku mengingatkan tapi Bimo malah tambah rapat memeluk pantat belakangku dan menggerakkan pantatnya sendiri maju-mundur, keluar masuk.
?Aku mau sampai tuntas, bu..? bisiknya di sela-sela deru nafasnya.
?Aku bisa hamil, Bim!?
?Aku tak percaya.?
?Serius, Bim!?
?Sekarang kita nikmati saja, bu? hamil urusan nanti.? Gocohannya tambah keras dan aku malah semakin menggigil merasakan nikmat syahwat itu sampai ke ubun-ubun. Ketakutan akan kehamilan pun jadi terlupakan.
Bimo mendorongku telentang ke ranjang dan dia lalu jadi joki piawai. Mengolah gerakan pantatnya, zakarnya keluar masuk, naik turun, mencangkul, menusuk, mengobrak-abrik memekku sampai akhirnya dia menekan sangat keras dan crooot? crooot? crooot? cruuut? cruut? cret?!! Sperma hangat mengaliri rahimku dan akupun mengejan berkejat-kejat lagi menumpahkan mani. Memeluk punggung dan pahanya erat-erat. Kami mencapai puncak bersamaan. Dan ini kali pertama zakarnya bersarang di vaginaku tanpa bisa kularang karena aku juga menginginkan. Resiko hamil kujadikan urusan belakang.
Kenikmatan itu terus kami reguk setelah mandi dan makan malam. Semalaman lagi kami bergumul memanjakan syahwat hingga terdengar sirene kapal memberitahukan bahwa pelabuhan tujuan sudah kelihatan. Namun untuk mencapai pelabuhan itupun masih perlu waktu dua jam lagi dan itupun terus kami gunakan mereguk madu nafsu di kapal itu. Kami biarkan penumpang lain turun lebih dulu supaya mereka tidak melihat tubuh dan wajah kami yang kusut masai pucat pasi kehabisan mani.
Setelah itu dua bulan aku menemani anakku di Irian Jaya, dan dua bulan itu pula kami secara sembunyi-sembunyi terus berzinah. Demikian pula sewaktu Bimo mengantarku pulang ke Jawa Timur, kami memilih naik kapal laut lagi, bahkan kami sempat menginap tiga hari di hotel Surabaya sebelum pulang ke rumah. Tahun depan, aku berharap Bimo mau menjemputku untuk menengok anakku lagi. Setelah merasakan kelelakian Bimo, rasanya aku jadi tak kuat ?puasa? berlama-lama. Aku tak mau dengan laki-laki lain. Dan kukira aku harus segera sterilisasi untuk mencegah kelahiran anakku sekaligus cucuku.

Birahi Ibu Mertua

Tujuh tahun silam ,tepatnya bulan mei 2003 aku memiliki pengalaman seks yang sedikit aneh dan luar biasa tentunya.
Waktu itu bertepatan dengan banyaknya libur tanggal merah, yang harinya sangat berdekatan. Aku dan istriku sengaja mengambil cuti sebanyak dua belas hari kerja, ditambah dengan libur tanggal merah. Yah! lumayan untuk istirahat dari rutinitas pekerjaan dan sumpeknya kota Jakarta.
*****
Aku berusia 30 tahun, sebut saja namaku Pento, Indri istriku Berusia 29 Tahun. Kami baru dikaruniai seorang anak lelaki yang lucu yang ku beri nama Piko, berusia 2,5 tahun. Pada hari yang sudah kami tentukan aku sekeluarga berangkat ke Kota S. Penumpang kereta Argo Lawu tidak terlalu penuh! Mungkin, dikarenakan hari libur masih beberapa hari lagi, jadi aku istri dan anakku lebih leluasa beristirahat selama dalam perjalanan.
Jam 5:30 pagi kereta tiba di stasiun kota S, Kami di jemput Ibu mertuaku dan pakde Man sopir keluarga Mertuaku. Ibu mertuaku begitu bahagianya dengan kedatangan kami, anak kami Piko pun langsung dipeluk dan diciumi, maklum anak kami Piko cucu lelaki pertama bagi keluarga bapak dan Ibu mertuaku.
Akhirnya, kami sampai juga di desa GL tempat tinggal mertuaku, suasana desa yang cukup tenang langsung terasa, ditambah lagi rumah mertuaku yang begitu besar, hanya dihuni oleh Bapak dan Ibu mertuaku saja. kelima anak bapak dan Ibu mertuaku semuanya perempuan, dan sudah pada menikah semua! kecuali Adik iparku yang paling bungsu saja yang belum menikah! dan saat ini sedang menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi negri di kota Y.
“Bapak mana Bu? Tanya Indri istriku”.
“Bapakmu lagi kerumah Bupati, Biasalah paling-paling ngomongin proyek!”, Jawab Ibu mertuaku.
Ibu mertuaku seorang wanita yang berumur kurang lebih 48 tahun, kulitnya putih bersih. Bapak dan Ibu mertuaku menikah disaat usia mereka masih remaja, namun begitu, Ibu mertuaku masih tetap terlihat cantik walaupun usianya hampir memasuki kepala lima. Istriku sendiri anak kedua dari 5 bersaudara.
Setelah mandi dan beristirahat kamipun makan pagi bersama. Kami bercerita kesana kemari sambil melepas lelah dan rasa rindu kami, tanpa terasa haripun sudah menjelang sore. Selepas mahgrib bapak mertuaku kembali dari rumah bupati, kami pun kembali bertukar cerita, semakin malam semakin sepi padahal baru jam 8 malam. Maklumlah didesa!.
“Ini minum wedang buatan Ibu! Biar kalian segar saat bangun pagi harinya”.
Aku, istriku dan bapak mertuaku pun langsung memimum wedang buatan Ibu mertuaku.
“Enak sekali Bu! apa ini Tanya Indri istriku “.
“Itu wedang ramuan Ibu sendiri! Gimana, seger kan?”.
Kamipun melanjutkan obrolan kami kembali, kurang lebih setengah jam kami ngobrol, rasanya mata ini kok berat sekali. Istiku pamit menyusul anak kami yang sudah duluan tertidur. Aku mencoba bertahan dari rasa ngatuk! dan melanjutkan cerita kami, namun apa daya! rasa ngantuk ini sudah terlalu berat. Akupun pamit tidur pada bapak dan Ibu mertuaku.
Sambil menguap aku berjalan menuju kamar tidur kami yang cukup besar, kulihat istri dan anakku sudah tertidur dengan nyenyaknya. Tumben dia nggak nungguin aku? Akupun langsung merebahkan diri karena rasa ngantuk yang begitu berat. Tak lama aku pun langsung tertidur.
Entah sudah berapa lama aku tertidur, aku merasakan seperti ada yang menciumku, membelaiku, aku mencoba untuk membuka mataku, namun aku tetap tidak sanggup untuk membuka mataku ini. Rasanya seperti ada yang mengganjal dimataku, yang membuat aku terus tertidur.
Aku juga merasakan nikmat saat berejakulasi. Dan Aku berangapan bahwa semua ini hanya mimpi basah saja. Ketika pagi harinya aku terbangun, kulihat istri dan anakku masih lelap tertidur, aku ke kamar mandi untuk kencing! begitu aku melihat kemaluanku, ada bekas sperma kering? Kupegang kemaluanku dan jembutku kok lengket? ketika kucium, aku mengenal betul bau yang begitu kas, bau dari lendir kemaluan perempuan.
Aku berpikir kok mimpi basah ada bau lendir perempuannya?, apa semalam aku diperkosa setan? Saat kami semua sarapan pagi, aku hendak menceritakan peristiwa yang kualami semalam, tapi aku malu, takut ditertawakan, jadi aku diamkan saja peristiwa semalam.
Hari kedua disana, aku, istri dan anakku tamasya ke daerah wisata, kami pulang sudah malam. Seperti hari kemarin, setelah ngobrol-ngobrol dan istirahat Ibu mertuaku memberi kami wedang buatannya, aku dan istrikupun langsung meminumnya. Herannya kurang lebih 30 menit setelah aku menghabiskan wedang buatan Ibu mertuaku, rasa ngantuk kembali menyerang aku dan istriku. Karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa ngantuk yang begitu sangat, kami berdua pamit hendak tidur, untungnya anak kami sudah tertidur dalam perjalanan pulang.
“Mas aku ngantuk! selamat tidur ya Mas!”.
Langsung istriku merebahkan badan dan tertidur dengan pulasnya. Akupun ikut tertidur. Apa yang kemarin malam terjadi, malam ini terulang kembali. Pagi harinya setelah aku melihat bekas sperma dan bekas lendir perempuan yang sudah mengering dan membuat kusut jembutku, aku bertanya tanya dalam hatiku?, apa yang sebenarnya terjadi?
Hari ketiga, aku tidak ikut pergi jalan jalan!, hanya istri anak serta Ibu mertuaku saja yang pelesir ke tempat sanak pamily keluarga istriku. Aku hanya rebahan ditempat tidur sambil melamun dan mengingat kejadian yang kualami selama 2 malam ini. Apa ada mahluk halus yang memperkosaku disaat aku tidur? Kenapa setiap habis meminum wedang, aku jadi ngantuk? apa karena suasana desa yang sepi? Padahal aku biasanya kuat begadang, atau karena wedang?
Nanti malam aku coba untuk tidak meminum wedang buatan Ibu, batinku. Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku, karena lelah akhirnya akupun tertidur. Saat malam menjelang, kami sekeluarga berkumpul dan berbincang bincang. Seperti hari kemarin-kemarin pula, Ibu mertuaku memberi kami wedang buatannya. Istri dan bapak mertuakupun sudah menghabiskan minumannya, sementara aku belum meminumnya.
“Kok nggak diminum Mas wedangnya”, tanya Ibu mertuaku?.
Aku memang mencoba untuk tidak meminum wedang tersebut, walaupun badan segar saat bangun tidur! namun aku berniat untuk tetap tidak memimumnya. Karena aku penasaran dengan apa sudah aku alami beberapa hari ini. Saat aku hendak meminumnya aku berpura pura sakit perut, sambil membawa wedang yang seolah olah sedang kuminum aku berjalan kearah dapaur menuju toilet. Padahal sesampainya dikamar mandi, aku langsung membuang wedang tersebut.
Aku berkumpul kembali ke ruang keluarga, kurang lebih tiga puluh menit! kulihat istiku dan bapak mertuaku sudah mengantuk dan berniat untuk tidur. Namun hal itu tidak terjadi denganku, apa karena aku tidak meminum wedang tersebut? Aku masih segar dan belum mengantuk. Aku pun berpura-pura seperti orang mengantuk, kami berdua pamit dan masuk kekamar, istrikupun mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur yang cukup nyaman dimata.
“Mas aku ngantuk sekali! Kamu nggak kepengen kan? Besok aja ya Mas! aku ngantuk sekali Mas” Kukecup kening istriku dan dia pun langsung tertidur.
Aku masih melamun, kenapa hari ini aku tidak mengantuk seperti biasanya? Apa karena aku tidak meminum wedang buatan Ibu? Hampir setengah jam setelah istriku terlelap, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki menghampiri kearah kamarku!. Langsung aku pura-pura tertidur. Kulihat ada yang membuka pintu kamarku, saat kubuka sedikit kelopak mataku ternyata Ibu mertuaku! Mau apa beliau? Aku terus pura -pura tertidur. Untung lampu tidur dikamar kami remang-remang jadi ketika aku sedikit membuka kelopak mataku tidak terlihat oleh Ibu mertuaku.
Deg.. jantungku berdebar saat Ibu mertuaku menghampiriku, langsung mengelus elus burungku yang masih terbungkus celana pendek. Aku hendak menegurnya, namun rasa penasaran dengan apa yang terjadi 2 hari ini dan apa yang akan dilakukan Ibu mertuaku membuat aku terus berpura-pura tertidur. Ibu mertuaku pun langsung menurunkan celana pendek serta celana dalamku tanpa rasa canggung atau takut kalau aku dan istri ku terbangun, atau mungkin juga mertuaku sudah yakin kalau kami sudah sangat nyenyak sekali.
Blass lepas sudah celanaku! Aku telanjang, jantungkupun makin berdebar, aku terus berpura-pura terdidur dengan rasa penasaran atas perbuatan Ibu mertuaku. Aku menahan napas saat Ibu mertuaku mulai menjilati dan mengulum kemaluanku, hampir aku mendesih, aku mencoba terus bertahan agar tidak mendesis dan membiarkan Ibu mertuaku terus melanjutkan aksinya. Kemaluanku sudah berdiri dengan tegaknya, Ibu mertuaku dengan asiknya terus mengulum kemaluanku tanpa tahu bahwa aku tidak tertidur. Jujur aku akui, bahwa aku juga sebenarnya sudah sangat terangsang sekali. Ingin rasanya saat itu juga, aku bangun, langsung menerkam, mencumbu dan menyetubuhi Ibu mertuaku.
Kutahan semua gejolak birahiku, dan ku biarkan Ibu mertuaku terus melanjutkan aksinya. Tiba-tiba Ibu mertuaku melepas kulumannya dan bangkit berdiri, aku terus memperhatikannya, dan bless.. mertuaku melepas dasternya, ternyata dibalik daster tersebut mertuaku sudah tidak memakai BH dan celana dalam lagi.
Aku sangat berdebar, dag.. dig.. dug suara jantungku saat menyaksikan tubuh telanjang Ibu mertuaku, apalagi ketika Ibu mertuaku mulai naik ketempat tidur, langsung mengangkangiku tepat diatas burungku, makin tak karuan detak jantungku. Digemgamnya kemaluanku, diremas halus sambil dikocok-kocok perlahan, kemudian di gesekgesekan ke memek Ibu mertuaku.
Aku sudah tidak tahan lagi! Ingin rasanya langsung kumasukan kontolku!. Sambil berjongkok, burungkupun diarahkannya kelubang surga Ibu mertuaku! perlahan-lahan sekali beliau menurunkan pantatnya memasukan burungku ke memeknya! sambil memejamkan mata menikmati mili demi mili masuknya burungku ke sarangnya.
“Ahh.. ahh nikmat”, jerit mertuaku, saat semua burungku telah amblas masuk tertelan memek Ibu mertuaku.
Sambil terus berpura-pura tertidur aku menahan gejolak birahiku yang sudah memuncak.
“Ahh.. Ibu mertuaku menjerit tertahan saat beliau mulai naik turun bergoyang menikmati rasa nikmat yang beliau rasakan.
Ibu mertuaku terus menjerit, mendesah, tanpa takut aku, istri dan anakku atau bapak mertuaku terbangun.
Ibu mertuaku terus bergoyang naik turun. Belum beberapa lama menaik turunkan pantatnya, tubuh Ibu mertuaku mengejang.
“Ahh nikkmatt”, jerit panjang Ibu mertuaku.
Rupanya Ibu mertuaku baru saja mendapatkan orgasmenya.
Ibu mertuaku langung rebah menindih tubuhku mencium bibirku membelai kepalaku seperti, seorang istri yang baru saja selesai bersetubuh dengan suaminya, aku langsung membuka mataku.
“Jadi selama ini aku tidak bermimpi! dan tidak pula tidur dengan mahluk halus!”.
Ibu mertuaku bangkit karena kaget.
“Mass ka.. mu ndak ti.. dur? kamu nggak meminum wedang yang Ibu bikin?”.
“Tidak Bu! aku tidak meminumnya”, Ibu mertuaku salah tingkah dan serba salah! mukanya memerah tanda beliau mengalami malu yang sangat luar biasa.
Aku bangkit dan duduk ditepi ranjang,
“Mass..”, Ibu mertuaku menangis sambil duduk dan memeluk kakiku.
“Ammpuni Ibu, Mass”.
Aku merasa kasihan melihat Ibu mertuaku seperti itu, karena aku sendiripun sudah sangat terangsang akibat permainan Ibu mertuaku tadi.
“Bu aku belum tuntas!”, aku angkat mertuaku, aku peluk, kucium bibirnya.
“Sudah Bu, jangan menangis!, aku juga menikmatinya kok Bu!”.
Kulepas bajuku, kami berdua sudah telanjang bulat, kupeluk Ibu mertuaku dan kamipun berciuman dengan buasnya.
“Ahh Mas.. nikmat.. Mas..”, saat kuhisap dan kuremas tetek mertuaku yang sudah kendur.
“Ah.. Mas nikmat..”, kutelusuri seluruh tubuhnya, dari teteknya, terus kuciumi perutnya yang agak gendut.
“Ahh Mass”, jeritnya, saat kuhisap kemaluannya, kujilati itilnya sambil ku gigit gigit kecil.
Dua jarikupun terbenam di dalam memek ibu mertuaku, jeritan mertuaku makin tak terkendali, apalagi disaat dua jariku mengocok dan menari-nari dilubang memeknya dan lidahku menari nari di itilnya.
“Ahh.. Mass Ibu mau keluar lagi.. ahh! Ibu keluarr!, aarrgghh”, jerit ibu mertuaku.
Tanpa sadar kaki mertuaku menjepit kepalaku! Sampai sampai aku tidak bisa bernapas.
“Enak Bu?”
“Enak sekali Mas”. Kucium kembali mertuaku.
“Bu.. apa Indri nanti nggak bangun?”
“Tenang Mas! Wedang itu merupakan obat tidur buatan Ibu yang paling ampuh!”
“Tidak berbahaya Bu?”
“Tidak Mas”.
Kugeluti kembali mertuaku.. kucium.. kuhisap teteknya. Kucolok-colok memeknya dengan dua jari saktiku.
“Oohh Mass masukin Mass Ibu sudah nggak tahan lagi.. Mas”.
Dengan gaya konvensional langsung kuarahkan kontolku ke lubang surga Ibu mertuaku, dan akhirnya masuk sudah.
“Oh.. Mas nikmat sekali..”.
“Iya Bu.. aku juga nikmat.. memek Ibu nikmat sekali.., goyang terus Bu..”.
Kamipun terus berpacu dalam nikmatnya lautan birahi. Aku mendayung naik turun dan Ibu mertuaku bergoyang seirama dengan bunyi kecipak-kecipak dari pertemuan dua alat kelamin kami.
“Ohh Mas.. Ibu mau keluar lagi..”.
Rupanya Ibu mertuaku orang yang gampang meraih orgasme dan gampang kembali pulihnya, aku pun tak mau kehilangan moment.
“Tahan Buu!, sedikit lagi akuu juga keluarr..”, sambil kupercepat goyangan keluar masuk kontolku.
“Akk Mass, Ibu sudah nggak kuatt”.
Dan serr serr aku merasakan kemaluanku seperti di siram air yang hangat rasanya. Akupun sudah tak kuat lagi menahan ejakulasiku!
“Ibuu aacchh, cret.. cret.. cret..”, akupun rubuh memeluk Ibu mertuaku.
“Bu!, jadi yang yang kemarin-kemarin itu Ibu yang melakukannya?”
“Iya Mas, maafin Ibu! Ibu jatuh cinta sama Mas pento sejak pertama kali Ibu melihat Mas. Apalagi Bapak sudah lama terserang impotensi”.
“Kenapa harus seperti pencuri Bu?”.
“Ibu takut ditolak Mas! lagi pula Ibu malu, sudah tua kok gatel”.
“Apa semua mantu Ibu, Ibu perlakukan seperti ini?”.
Sambil melotot Ibu mertuaku berkata, “Tidak Mas! Mas pento adalah lelaki kedua setelah bapak, Mas lah yang Ibu sayangi”. Kucium kembali mertuaku, kupeluk.
“Mulai besok Ibu jangan pakai wedang lagi, untuk Ibu, aku siap melayani, kapanpun Ibu mau”.
Kamipun bersetubuh kembali, tanpa mempedulikan bahwa di sampingku, istri dan anakku tertidur dengan pulasnya. Tanpa istriku tahu! didekatnya aku dan ibunya sedang menjerit jerit mereguk nikmatnya persetubuhan kami. Saat ayam berkokok dan jam menunjukan pukul 3:30 kami menyudahi pertarungan yang begitu nikmat, lalu Ibu mertuaku dengan santai berjalan keluar dari kamar kami sambil berkata, “Mas Pento terima kasih!”.
*****
Yah.. itulah awal hubungan sexku dengan Ibu mertuaku, walaupun ada rasa sesal, namun rasa sesal itu lenyap tertelan nikmat yang kudapat, dan akupun jadi tahu bahwa wanita seusia Ibu mertuaku sangat nikmat untuk di setubuhi. Nanti akan aku ceritakan kembali kisah persetubuhanku dengan mertuaku selama aku liburan di desa GL.
Pagi Harinya, saat aku terbangun waktu sudah menunjukan pukul 10:15, kulihat disampingku, istri dan anakku sudah tidak ada lagi. Ahh.., akupun termenung mengingat kejadian semalam, aku masih tidak menyangka. Ibu mertuaku, orang yang sangat aku hormati, dan sangat aku kagumi kecantikannya, dengan suka rela menyerahkan tubuhnya kepadaku. Malah ibu mertuaku juga yang memulai awal perselingkuhan kami.
“Selamat pagi Ma”, sapaku saat kulihat di dapur istriku sedang membuatkan kopi untukku,
“Kok sepi pada kemana mah?”
“Kamu sih bangunnya kesiangan, Bapak pergi ke Wonogiri, Ibu pergi ke pasar sama Piko”.
Kupandangi wajah istriku, tiba-tiba saja terlintas bayangan wajah Ibu mertuaku, akupun jadi terangsang, karena peristiwa semalam masih membekas dalam ingatanku.
“Ihh.. apa-apaan sih Mas.. jangan disini dong Mas..”, protes istriku saat kutarik lengannya, langsung kupeluk dan kulumat bibirnya..
“Mas.. malu.. ahh, nanti kalau Ibu datang bagaimana?”
Aku yang sudah benar benar terbakar birahi, sudah tidak perduli lagi akan protes istriku, kuremas teteknya, ku lumat bibirnya, yang aku bayangkan saat itu adalah Ibu mertuaku. Kubalik tubuh istriku, dalam posisi agak membungkuk, kusingkap ke atas dasternya kuturunkan celana dalamnya dan,
“Uhh Mas pelan pelan dong.”
Aku tak perduli, kuturunkan celanaku sebatas lutut, langsung kuarahkan burungku yang sudah tegak berdiri kelobang memek istriku.
“Mass.. pelan pelan.. dong.. sakit.. Mas.”
Semakin istriku berteriak, gairahkupun semakin meninggi, aku terus memaksa memasukan kontolku ke lubang memek istriku, yang belum basah benar.
“Ahh..”, jeritku, saat burungku amblas tertelan memek istriku.
Entahlah, saat itu aku merasakan gairahku begitu tinggi, langsung ku kugoyang maju mundur pantatku.
“Ahh nikmat Ndri..”, kugoyang dengan keras keluar masuk kontolku.
“Mas.. enak mass.”
Terus kugoyang maju mundur, mungkin karena terlalu bernafsu, baru beberapa menit saja, rasanya ejakulasiku sudah semakin dekat, denyutan di kontolku semakin membuat aku mempercepat kocokan kontolku di lubang memek istriku.
“Ndri .. aku mau keluarr nihh.”
“Tahann mass, jangan dulu.., tahan sayang”, pinta istriku.
Namun, semua permintaan istriku itu sia-sia, aku sudah tidak sanggup lagi menahan bobolnya benteng pertahananku, sedetik kemudian aahh, seluruh syaraf tubuhku menegang dan cret.. cret.. crett.. uhh.. aku menjerit tertahan sambil dengan erat kupeluk tubuh istriku dari belakang.
Kulihat, raut wajah kekecewaan diwajah Indri istriku,
“Maaf.. ya.. sayang. aku sudah ngak tahan, aku terlalu bernafsu, habis kamu sexy sekali hari ini”, rayuku.
“Ndak apa-apa Mass..”, kukecup keningnya.
“Kamu aneh deh Mas?, ngak biasanya kamu kasar kayak tadi?”, tanya istriku sambil berlalu menuju kamar mandi.
Kasihan istriku. padahal saat bersetubuh dengannya, aku membayangkan, yang sedang kusetubuhi adalah ibu mertuaku.
Saat siang menjelang, setalah makan siang, istriku dijemput oleh teman-teman genknya waktu di SMA dulu, rupanya istriku sudah janjian untuk bertemu dengan teman -teman sekolahnya dulu, kebetulan salah satu sahabat karib istriku yang sekarang ini tinggal dilampung, saat ini sedang pulang kampung juga.
“Pada mau kemana nih?” Tanyaku
“Mumpung kita lapi pada kumpul nih Mas, kita mau jalan- jalan aja Mas. Ya.. Paling-paling ke kota S makan Soto gading”, Jawab mereka.
Setelah berbasa basi, mereka pamit padaku dan ibu mertuaku.
“Da.. da piko jagain mamah ya..”, kukecup anakku.
“Bu aku pergi dulu ya”, pamit istriku.
“Mas aku jalan jalan dulu yahh, bye Mas”
Saat aku masuk kedalam rumah aku lihat Ibu mertuaku sedang mengunci pintu gerbang.
“Kok digembok bu?
“Biar aman”, katanya, sambil berjalan dan masuk ledalam rumah, dan klik.. Pintu rumah pun di kunci oleh Ibu mertuaku.
Aku dan Ibu Mertuaku saling berpandangan, seperti sepasang kekasih yang lama sekali tidak berjumpa dan saling merindukan, entah siapa yang memulai aku dan Ibu mertuaku sudah saling berpelukan dengan mesranya, Kukecup keningnya, dan kuremas remas bongkahan pantatnya.
“Mas Pento, Saat-saat seperti inilah yang paling ibu tunggu-tunggu” kupandangi wajah ibu mertuaku, sunguh cantik sekali, kucecup kening mertuaku, kulumat bibirnya, kami berciuman dengan buasnya, saling sedot, saling hisap, kuangkat dan kulepas daster yang dipakai ibu mertuaku. Terbuka sudah, ternyata ibu mertuaku sudah tidak memakai BH dan celana dalam lagi, kuhisap teteknya, kujilati inhci demi inchi seluruh tubuh Ibu mertuaku.
“Ahh Mass, terus Mas.. sshh enak sayang..”.
Kuajak Ibu mertuaku pindah ke sofa.
“Kamu duduk Mas..”, dilepasnya kaos dan celanaku, aku dan ibu mertuaku sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel ditubuh kami berdua.
“Ahh.. nikmat bu.., ohh hisap terus bu, hisap kontolku bu.. ahh”.
Nikmat sekali kuluman ibu mertuaku, kami berdua sudah lupa diri, saling merangsang saling meremas.
“Ohh.. bu.., akupun bangkit untuk merubah posisi, kurebahkan ibu mertuaku dilantai, kakinya mengangkang, kupandangi memeknya, yang telah melahirkan istriku, kuhisap, kukecup dengan lembut memek ibu mertuaku, kujilati dengan penuh perasaan, kuhisap semua cairan yang keluar dari lubang sorga Ibu mertuaku.
“Ohh.. Mas.. jangan siksa Ibu sayang.., Mass, Pentoo.., masukin sekarang Mas.., Ibu sudah mau keluar sayang”.
Langsung kuarahkan batang kontolku kelubang surga ibu mertuaku. yang sudah pasrah dan siap untuk di sodok-sodok kontolku. Kugesek -gesek perlahan kontolku di itil Ibu mertuaku yang sudah mengeras dan.. belss.. uhh, rintih Ibu mertuaku saat kepala kontolku menerobos memasuki lubang nikmatnya.
“Ohh.., Mas masukin semuanya sayang.. jangan siksa ibu.. sayang..”
Lalu kuhentak dengan kasar.. ahh.. jerit mertuaku saat seluruh batang kontolku amblas meluncur dengan indahnya terbenam dijepit memek Ibu mertuaku, yang rasanya membuat aku jadi ketagihan mengentoti ibu mertuaku. Kupeluk ibu mertuaku, kamipun saling melumat, kuangkat perlahan-lahan kontolku kuhujam kembali dengan keras.
“Aahh..”, jerit ibu mertuaku.
“Mas.. Pento.. entotin Ibu Mass.. entotin Ibu.. Mas .. ohh mass. puasin Ibu.. sayang.., uhh ahh.”
Akupun semakin terangang dan bersemangat mendengar rintihan dan jeritan-jeritan jorok yang keluar dari mulut Ibu mertuaku.
Kunaik turunkan pantatku dengan tempo yang cepat dan kasar.
“Ahh.. ahh .. Ibu.., jeritku, aku mau keluar.. buu.”
“Iyaa.. sayang ibu juga mau keluarr.”
Kupercepat kocokan keluar masuk kontol ku, plak.. plak.. plak..
“Mass.. ayo Mass.. keluar.. bareng.. sayang. Ahh..”
Tubuh ibu mertuaku pun mengejang, kakinya menjepit pinggangku.
“Mass ahh ahh”
“Ibuu, arrgg”, jerit kami bersamaan saat nikmat itu datang seperti ombak yang bergulung gulung.
“Cret.. crett.. crett..”, kusirami rahim ibu mertuaku dengan spermaku.
Aku dan Ibu mertuaku terus berpelukan menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang begitu dahsyat yang kami raih secara bersamaan.
“Bu..” kulihat ibu mertuaku masih memejamkan matanya, dengan nafas terengah -engah.
“Iya Mas..”
“Rasanya aku jatuh cinta sama ibu..”, kulihat ibu mertuaku tersenyum. manis sekali..
“Ibu maukan jadi kekasihku bu”.
Ibu mertuakupun hanya tersenyum dan mengecup keningku dengan mesranya, sambil berkata,
“Mas ini nikmat sekali..”, dikecup kembali keningku.
Hari itu sampai magrib menjelang kami berdua terus berbugil ria, aku dan ibu mertuaku seperti layaknya pengantin baru, yang terus menerus melakukan persetubuhan tanpa merasa bosan, tanpa lelah kami terus menumpahkan cairan nikmat kami, di dapur, dikamar tidur ibu mertuaku dan di kamar mandi. Yang paling dasyat, setelah aku dan ibu mertuaku, meminum jamu buatan ibu mertuaku. Badanku segar sekali, dan kontolku begitu keras dan kokoh.., kukocok kontolku dilubang surga Ibu mertuaku, sampai banjir memek Ibu mertuaku danIibu mertuaku memohon kepadaku agar aku memasukan kontolku di lubang anusnya. Nikamat sekali .. saat kutembakan spermaku didalam liang anus Ibu mertuaku.
Saat istriku kembali selepas isya, kusambut istriku dan teman temannya, setelah ber bincang bincang sebentar teman teman istriku pamit pulang. Istrikupun masuk menuju kamar hendak menaruh anak kami yang sudah lelap tertidur ke pembaringan.
“Mas aku taruh Piko di kamar dulu ya..”, kulirik Ibu mertuaku dan kuhampiri beliau sambil berbisik.
“Bu.., Indri adalah istri pertamaku, dan Ibu istri keduaku”, ujarku.
Ibu mertuaku pun tersenyum dengan manisnya, sambil mencubit pinggangku. Hari itu benar benar dahsyat. Dua lubang, lubang memek dan lubang anus Ibu mertuaku sudah aku rasakan.
*****
Pada hari keenam liburan kami di desa GL, aku dan istriku terpaksa harus pulang ke Jakarta, karena dikantor istriku ada keperluan mendadak dan membutuhkan kehadiran Istriku. Mau tidak mau aku dan Istriku membatalkan semua acara liburan kami di kota S.
Kulihat Ibu mertuaku tampak sedih dan murung, beliau bilang sama Bapak mertuaku kalau beliau masih kangen sama kami, dan kalau menunggu hari raya nanti, rasanya terlalu lama buat beliau. Padahal itu adalah alasan Ibu mertuaku, Ibu mertuaku masih belum mau berpisah denganku, kurayu istriku agar membujuk Bapak mertuaku, berkat bujukan istriku akhirnya Bapak mertuaku membolehkan ibu mertuaku ikut kami ke Jakarta. Ibu mertuaku sangat gembira sekali dan kulihat sekilas matanya melirik kearahku.
Besoknya Aku memesan tiket kereta Argo Dwipangga, karena hari itu hari kerja, maka Akupun dengan mudah memperoleh tiket, Aku membeli empat tiket dan sedikit oleh -oleh untuk teman teman kami. Sesampainya aku dirumah, kami pun langsung berkemas kemas merapikan barang bawaan kami., Jam sudah menunjukan pukul 6:30 sore. Saat aku hendak menuju kekamar mandi aku berpapasan dengan Ibu mertuaku yang hari itu tampak cantik sekali, kubisikan kepadanya, agar Ibu mertuaku tidak usah memakai celana dalam, ibu mertuakupun tersenyum penuh arti.
Dengan diantar Pakde Man dan Bapak mertuaku Jam 8:30 malam kami tiba di stasiun Balapan, setelah menunggu sekitar kurang lebih setengah jam keretapun berangkat. Kuputar bangku tempat duduk kami, biar kami bisA saling berhadapan. Istriku duduk bersama anakku yang sudah teridur dipangkuan istriku sementara aku duduk bersama ibumertuaku. Setelah lewat stasiun yogyakarta, kulihat bangku disamping tempat duduk lami kosong. Berarti sudah tidak ada penumpang.., akupun pindah tempat duduk di sebelah kami, ternyata penumpang kereta hari ini tidak begitu penuh.
Dinginnya AC di kereta membuat banyak penumpang yang menarik selimut dan tertidur dengan lelapnya. Kulihat istri dan ibu mertuaku pun sudah tertidur. Jam 2 pagi aku terbangun kulihat istri dan anakku masih tertidur, aku bangkit dengan perlahan lahan kucolek Ibu mertuaku, beliau membuka matanya, sstt, akupun memberi kode kepada Ibu mertuaku. perlahan lahan Ibu mertuaku bangkit, kulihat istri dan anakku masih tertidur.
“Bu.. aku kepengen.. bisikku..”, Ibu mertuakupun tersenyum, kami berjalan ke arah belakang melewati penumpang lain yang masih lelap tertidur.
Sesampainya kami di gerbong belakang, tepat dibelakang gerbong kami, ternyata hanya ada beberapa penumpang yang sedang terlelap dan masih banyak kursi yang kosong. Setelah mendapat tempat duduk yang kurasa aman kuputar bangku didepan biar aman dan lega bagian tengahnya.
Langsung kupeluk Ibu mertuaku, kamipun saling berpagutan, kuremas tetek Ibu mertuaku, dengan perasaan yang sangat berdebar, kubuka celanaku sampai sebatas lutut, kontolku sudah tegak dengan sempurna, kuangkat rok panjang Ibu mertuaku.. wowwww ternyata Ibu mertuaku sudah tidak memakai celana dalam lagi.
“Kamu yang suruh.. katanya”, sambil memencet hidungku.
Aku duduk di lantai kereta, badanku bersandarkan tempat duduk, Ibu mertuakupun bangkit mengangkangiku, perlahan -lahan di arahkan memeknya ke burungku yang sudah tidak sabar menerima sarangnya. Diturunkan perlahan lahan dan bless.. amblas semua kontolku masuk kedalam tertelan lobang nikmat Ibu mertuaku yag sudah sangat basah sekali.
“Ahh rintih kami bersamaan..”
Goncangan kereta api dan goyangan naik turun pantat Ibu mertuaku menambah nikmatnya persetubuhan kami.
Dengan cepat Ibu mertuaku menaik turunkan pantatnya, kami berdua bersetubuh dengan rintihan perlahan. takut kalau -kalau ada penumpang yang terbangun dan melihat perbuatan kami.
Hanya beberapa menit saja.., “Aahh, hh.. Ibuu aku.. aku.. mau keluarr..”.
“Cret.. cret.. crett..”
Kuangkat badanku dan kupeluk dengan erat tubuh Ibu mertuaku, tanpa sadar Ibu mertuakupun mengigit pundakku saat ejakulasi dan orgasme bersamaan hadir melanda dua insan manusia yang sedang lupa diri dan dilanda asmara.
“Deg-deg-deg-deg”, suara jantungku, untungnya tidak ada seorangpun yang lewat.. modar mandir.
Buru buru Aku dan Ibu mertuaku merapikan pakaian kami dan bergegas kembali kegerbong kami, kulihat anak dan istriku masih lelap tertidur, Aku dan Ibu mertuaku kembali keposisi kami masing-masing dan tertidur dengan senyum penuh kepuasan.

Istri Teman Kos Yang Menggoda

Pernkenalkan namaku Iwan asli Kalimantan yang menuntut ilmu di kota Y kota gudeg dan kota pelajar. Sejak SMA aku pernah sekali melakukan hubungan badan alias Ml dengan mantan pacarku dulu, dan tentunya cerita panas berikutlah yang paling berkesan menurutku. Cerita yang tentunya akan menjadi memory indah ketika kos di Sleman.
Lokasinya yang nyaman dan tenang, jauh dari hiruk pikuk kota, membuatku betah tinggal lama disini sejak tahun 2002 dari aku masuk kuliah sampai tahun 2003 aku diterima bekerja oleh kenalanku di sebuah perusahaan besar, jadi aku mengambil kuliah malam karena paginya aku harus bekerja hingga sampai aku lulus kuliah, aku belum pernah pindah. Tetangga-tetangga pun heran mengapa aku betah tinggal disitu padahal bu kostku terkenal orangnya kolot dan masih memegang tradisi lama. Orangnyapun alim dan tidak suka anak kostnya berbuat macam-macam dan kalau ketahuan sudah pasti diusir dari rumah kostnya.
Rumah kostku 2 lantai yang disewakan hanya 5 kamar dengan ukuran sedang dan kostnya baik untuk putra maupun putri, yang masih single maupun yang sudah berkeluarga. Kamar mandi untuk anak kost disedakan ada 2 didalam rumah satu dan yang diluar juga ada. Ibu koskupun tinggal disitu cuman tinggal di kamar sebelah dalam bersama anak semata wayangnya Mas Rano.
Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2005 saat kuliahku waktu itu sudah tersisa sedikit SKS jadi gak terlalu padat jadwal kuliah, Rumah kost hanya terisi dua, satu untukku dan sebelahnya lagi keluarga Mas Hendra berasal dari Magelang. Mas Hendra umurnya 2 tahun diatasku jadi waktu itu sekitar 26 tahun. Istrinya bernama Nita seumuran denganku. Nita orangnya manis putih tinggi sekitar 165 cm ukuran payudara sekitar 34 C. Mereka sudah dikaruniai satu orang anak masih berumur 2 tahun bernama Rara. Mas hendra orangnya penggangguran. Jadi untuk keperluan, Nita-lah yang bekerja dari pagi sampai malam di sebuah Supermarket terkenal sebagai SPG sebuah produk susu untuk balita. Karena keperluannya yang begitu banyak, Nita (menurut pengakuannya) sampai meminta pihak manajemen untuk bisa bekerja 2 shift.
Tentunya keluarga macam ini sering cek-cok. Nita mengganggap Mas Hendra orangnya pemalas bisanya hanya minta duit untuk beli rokok. Padahal jerih payah Nita seharusnya untuk beli susu buat Rara putrinya. Mas Hendra pun sering membalas omelan-omelan Nita dengan tamparan dan tendangan bahkan dilakukan didepan anaknya. Aku sendiri tidak betah melihat pertengkaran itu.
Suatu saat, Mas Tarno dapat pekerjaan sebagai ABK dan tentunya harus meninggalkan keluarganya dalam waktu yang cukup lama. Nita senang bukan main mendengarnya karena tak perlu mambiayai suaminya lagi. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama.
Pada malam itu, aku ngobrol dengan Nita dikamarnya sambil nonton TV. Si Rara muter-muter sambil bermain maklum umur segitu masih lucu-cucunya.
“Sekarang sepi ya, Nit….nggak ada Mas Hendra lagi.” kataku
“Lebih baik gini wan, enakan kalo Mas Hendra nggak ada.” Keluh Nita kepadaku.
“Emangnya Kenapa?” tanyaku.
“Mas Hendra tuh kerja nggak kerja tetep nyusahin. wajar khan kalo aku minta duit ke Mas Hendra? Aku khan istrinya. Eh, Dianya marah-marah. Besoknya aku diomelin juga ama ibu mertuaku. Katanya aku nggak boleh minta duitnya dulu biar bisa buat nabung. Gombal!!! Aku nggak percaya Mas Hendra bisa nabung!!!” Dia jawab dengan marah-marah.
“Sabar ya…” Aku mencoba untuk menenangkannya apalagi Rara dah minta bobo’.
“Seandainya Mas Iwan yang jadi suamiku mungkin aku tidak akan merana. Mas Iwan dah dapat pekerjaan tetap sambil kuliah lagi, pintar membagi waktu dan biaya hidup, sedangkan suamiku, Mas Hendra hanya pekerja kasar di kapal itupun sebulan sebelumnya penggangguran.” Keluhnya.
“Udah…jangan berandai-andai….biarkan hidup mengalir saja.” Jawabku sekenanya.
“Mas, ….. Tiba-tiba Nita duduk disebelahku mengapit tangganku dan menyandarkan kepalanya. Aku sungguh terkejut. Aku tahu Nita butuh kasih sayang, butuh belaian, butuh perhatian. Bukan tendangan dan tamparan. Aku balas dia dengan pelukan di bahunya. Sayang sekali Wanita semanis Nita disia-siakan oleh laki-laki. Tapi Aku juga laki-laki normal punya nafsu terhadap wanita. Justru inilah kesempatanku untuk mengerjai Nita apalagi ibu kostku menjengguk keluarganya di Surabaya selama seminggu dan baru berangkat kemarin malam dan Mas Rano dapat jatah kerja Shift malam di sebuah Mall. Yuhuyyy…akhirnya kesempatan itu tiba!!!
Kutoleh Nita yang saat itu sedang memakai daster, tanpa basa basi aku langsung merengkuh tubuh Nita yang montok itu kedalam pelukanku dan langsung kucium bibirnya yang tipis itu. Nita memeluk tubuhku erat erat, Nita sangat pandai memainkan lidahnya, terasa hangat sekali ketika lidahnya menyelusup diantara bibirku. Tanganku asyik meremas susu Nita yang tidak seberapa besar tapi kencang, pentilnya kupelintir membuat Nita memejamkan matanya karena geli. Dengan sigap aku menarik daster Nita, dan seperti biasanya Nita sudah tak mengenakan apa apa dibalik dasternya itu ternyata Nita memang sudah merencanakannya tanpa sepengetahuanku. Tubuh Nita benar benar aduhai dan merangsang seleraku, tubuhnya semampai, putih dengan susu yang pas dengan ukuran tubuhnya ditambah nonok yang tak berambut mencembung.
“Eh gimana kalo si Rara bangun?” tanyaku.
“Tenang aja Mas Iwan, Susu yang diminum Rara tadi dah aku campurin CTM.” Jawabnya dengan gaya yang manja. Benar-benar persiapan yang sempurna.
Ketika kubentangkan bibir nonoknya, itilnya yang sebesar biji salak langsung menonjol keluar. ketika kusentuh dengan lidahku, Nita langsung menjerit lirih. Aku langsung mencopot baju dan celanaku sehingga ko**ol ku yang sepanjang 15 cm langsung mengangguk angguk bebas. Ketika kudekatkan penisku ke wajah Nita, dengan sigap pula Nita menggenggamnya dan kemudian mengulumnya. Kulihat bibir Nita yang tebal itu sampai membentuk huruf O karena penisku yang berdiameter 3 cm itu hampir seluruhnya memadati bibir mungilnya, Nita sepertinya sengaja memamerkan kehebatan kulumannya, karena sambil mengulum ko**ol ku ia berkali kali melirik kearahku. Aku hanya dapat menyeringai keenakan dengan servis Nita ini. Mungkin posisiku kurang tepat bagi Nita yang sudah berbaring itu sementara aku sendiri masih berdiri disampingnya, maka Nita melepaskan kulumannya dan menyuruhku berbaring disebelahnya. Setelah aku berbaring dengan agak tergesa gesa Nita merentangkan kedua kakiku dan mulai lagi menjilati bagian peka disekeliling ko**ol ku, mulai dari pelirku, terus naik keatas sampai ke Lubang kencingku semuanya dijilatinya, bahkan Nita dengan telaten menjilati Nitang duburku yang membuat aku benar benar blingsatan. Aku hanya dapat meremas remas susu Nita serta merojok nonoknya dengan jariku. Aku sudah tak tahan dengan kelihaian Nita ini, kusuruh dia berhenti tetapi Nita tak memperdulikanku malahan ia makin lincah mengeluar masukkan Ko**ol ku kedalam mulutnya yang hangat itu. Tanpa dapat dicegah lagi air maniku menyembur keluar yang disambut Nita dengan pijatan pijatan lembut dibatang penisku seakan akan dia ingin memeras air maniku agar keluar sampai tuntas.
Ketika Nita merasa kalau air maniku sudah habis keluar semua, dengan pelan pelan dia melepaskan kulumannya, sambil tersenyum manis ia melirik kearahku. Kulihat ditepi bibirnya ada sisa air maniku yang masih menempel dibibirnya, sementara yang lain rupanya sudah habis ditelan oleh Nita. Nita langsung berbaring disampingku dan berbisik “Mas Iwan diam saja ya, biar saya yang memuaskan Mas !” Aku tersenyum sambil menciumi bibirnya yang masih berlepotan air maniku sendiri itu. Dengan tubuh telanjang bulat Nita mulai memijat badanku yang memang jadi agak loyo juga setelah tegang untuk beberapa waktu itu, pijatan Nita benar benar nyaman, apalagi ketika tangannya mulai mengurut ko**ol ku yang setengah ngaceng itu, tanpa dihisap atau diapa apakan, ko**ol ku ngaceng lagi, mungkin karena memang karena aku masih kepengen main beberapa kali lagi maka nafsuku masih bergelora. Aku juga makin bernafsu melihat susu Nita yang pentilnya masih kaku itu, apalagi ketika kuraba nonoknya ternyata itilnya juga masih membengkak menandakan kalau Nita juga masih bernafsu hanya saja penampilannya sungguh kalem .
Melihat penisku yang sudah tegak itu, Nita langsung mengangkangi aku dan menepatkan ko**ol ku diantara bibir nonoknya, kemudian pelan pelan ia menurunkan pantatnya sehingga akhirnya ko**ol ku habis ditelan nonoknya itu. Setelah ko**ol ku habis ditelan nonoknya, Nita bukannya menaik turunkan pantatnya, dia justru memutar pantatnya pelan pelan sambil sesekali ditekan, aku merasakan ujung penisku menyentuh dinding empuk yang rupanya leher rahim Nita. Setiap kali Nita menekan pantatnya, aku menggelinjang menahan rasa geli yang sangat terasa diujung ko**ol ku itu. Putaran pantat Nita membuktikan kalau Nita memang jago bersetubuh, ko**ol ku rasanya seperti diremas remas sambil sekaligus dihisap hisap oleh dinding nonok Nita. Hebatnya nonok Nita sama sekali tidak becek, malahan terasa legit sekali, seolah olah Nita sama sekali tak terangsang oleh permainan ini. Padahal aku yakin seyakin yakinnya bahwa Nita juga sangat bernafsu, karena kulihat dari wajahnya yang memerah, serta susu dan itilnya yang mengeras seperti batu itu. Aku makin lama makin tak tahan dengan gerakan Nita itu, kudorong ia kesamping sehingga aku dapat menindihinya tanpa perlu melepaskan jepitan nonoknya. Begitu posisiku sudah diatas, langsung kutarik ko**ol ku dan kutekan sedalam dalamnya memasuki nonok Nita. Nita menggigit bibirnya sambil memejamkan mata, kakinya diangkat tinggi tinggi serta sekaligus dipentangnya pahanya lebar lebar sehingga ko**ol ku berhasil masuk kebagian yang paling dalam dari nonok Nita. Rojokanku sudah mulai tak teratur karena aku menahan rasa geli yang sudah memenuhi ujung ko**ol ku, sementara Nita sendiri sudah merintih rintih sambil menggigiti pundakku. Mulutku menciumi susu Nita dan menghisap pentilnya yang kaku itu, ketika Nita memintaku untuk menggigit mesra susunya, tanpa pikir panjang aku mulai menggigit dengan sangat lembut daging empuk itu dengan penuh gairah, Nita makin keras merintih rintih, kepalaku yang menempel disusunya ditekan keras keras membuatku tak bisa bernafas lagi, saat itulah tanpa permisi lagi kurasakan nonok Nita mengejang dan menyemprotkan cairan hangat membasahi seluruh batang ko**olku.
Ketika aku mau menarik pantatku untuk memompa nonoknya, Nita dengan keras menahan pantatku agar terus menusuk bagian yang paling dalam dari nonoknya sementara pantatnya bergoyang terus diatas ranjang merasakan sisa sisa kenikmatannya. Dengan suara agak gemetar merasakan kenikmatannya, Nita menanyaiku apakah aku sudah keluar, ketika aku menggelengkan kepala, Nita menyuruhku mencabut ko**olku. Ketika ko**olku kucabut, Nita langsung menjilati ko**ol ku sehingga cairan lendir yang berkumpul disitu menjadi bersih. Ko**ol ku saat itu warnanya sudah merah padam dengan gagahnya tegas keatas dengan urat uratnya yang melingkar lingkar disekeliling batang penisnya. Nita sesekali menjilati ujung ko**olku dan juga buah pelirku. Ketika Nita melihat ko**olku sudah bersih dari lendir yang membuat licin itu, dia kembali menyuruhku memasukkan ko**olku, tetapi kali ini Nita yang menuntun penisku bukannya ke lubang nonoknya melainkan ke lubang duburnya yang sempit itu. Aku menggigit bibirku merasakan sempit serta hangatnya lubang dubur Nita, ketika ko**ol ku sudah menyelusup masuk sampai kepangkalnya, Nita menyuruhku memaju mundurkan ko**olku, aku mulai menggerakkan ko**olku pelan pelan sekali.
Kurasakan betapa ketatnya dinding dubur Nita menjepit batang ko**ol ku itu, terasa menjalar diseluruh batangnya bahkan terus menjalar sampai keujung kakiku. Benar benar rasa nikmat yang luar biasa, baru beberapa kali aku menggerakkan ko**ol ku, aku menghentikannya karena aku kuatir kalau air maniku memancar, rasanya sayang sekali jika kenikmatan itu harus segera lenyap. Nita menggigit pundakku ketika aku menghentikan gerakanku itu, ia mendesah minta agar aku meneruskan permainanku. Setelah kurasa agak tenang, aku mulai lagi menggerakkan penisku menyelusuri dinding dubur Nita itu, dasar sudah lama menahan rasa geli, tanpa dikomando lagi air maniku tiba tiba memancar dengan derasnya, aku melenguh keras sekali sementara Nita juga mencengkeram pundakku.
Aku jadi loyo setelah dua kali memuntahkan air mani yang aku yakin pasti sangat banyak. Tanpa tenaga lagi aku terguling disamping tubuh Nita, kulihat ko**ol ku yang masih setengah ngaceng itu berkilat oleh lendir yang membasahinya. Nita langsung bangun dari tempat tidur, dengan telanjang bulat ia keluar mengambil air dan dibersihkannya penisku itu, aku tahu kali ini dia tak mau membersihkannya dengan lidah karena mungkin dia kuatir kalau ada kotorannya yang melekat. Setelah itu, disuruhnya aku telungkup agar memudahkan dia memijatku, aku jadi tertidur, disamping karena memang lelah, pijatan Nita benar benar enak, sambil memijat sesekali dia menggigiti punggungku dan pantatku. Aku benar benar puas menghadapi perempuan satu ini.
Aku tertidur cukup lama, ketika terbangun badanku terasa segar sekali, karena selama aku tidur tadi Nita terus memijit tubuhku. Ketika aku membalikkan tubuhku, ternyata Nita masih saja telanjang bulat, ko**ol ku mulai ngaceng lagi melihat tubuh Nita yang sintal itu, tanganku meraih susunya dan kuremas dengan penuh gairah, Nitapun mulai meremas remas ko**ol ku yang tegang itu.
“Yuk kita ke kamar mandi” ajakku
“Sapa takut…..” seru Nita
Aku menarik tangan Nita keluar kamar sambil bugil tapi aku sempatkan menyambar 2 buah handuk kemudian berjalan mengendap masuk , takut ketahuan tetangga sebelah rumah kost dan mengunci pintu kamar mandinya dari dalam.
” Nit…kamu seksi banget..” desisku sambil lebih mendekatinya, dan langsung mencium bibirnya yang ranum. Nita membalas ciumanku dengan penuh gairah, dan aku mendorong tubuhnya ke dinding kamar mandi.
Tanganku membekap dadanya dan memainkan putingnya. Nita mendesah pelan. Ia menciumku makin dalam. Kujilati putingnya yang mengeras dan ia melenguh nikmat. Aku ingat, pacarku paling suka kalau aku berlama-lama di putingnya. Tapi kali ini tidak ada waktu, karena sudah menjelang pagi. Nita mengusap buah zakar ku. Kunaikan tubuh Nita ke bak mandi. Kuciumi perutnya dan kubuka pahanya.
Bulu kemaluannya rapi sekali. Kujilati liangnya dengan nikmat, sudah sangat basah sekali. ia mengelinjang dan kulihat dari cermin, ia meraba putingnya sendiri, dan memilin-milinnya dengan kuat.
Kumasukan dua jari tanganku ke dalam liangnya, dan ia menjerit tertahan. Ia tersenyum padaku, tampak sangat menyukai apa yg kulakukan. Jari telunjuk dan tengahku menyolok-nyolok ke dalam liangnya, dan jempolku meraba-raba kasar klitorisnya. Ia makin membuka pahanya, membiarkan aku melakukan dengan leluasa. Semakin aku cepat menggosok klitorisnya, semakin keras desahannya. Sampai-sampai aku khawatir akan tetangga sebelah rumah dengar karena dinding kamar mandi bersebelahan tepat dengan dinding rumah tetangga. Lalu tiba-tiba ia meraih kepalaku, dan seperti menyuruhku menjilati liangnya.
” Ahhh…ahhh….Mas…Arghhhh..uhhh…. Maaasss….” ia mendesah-desah girang ketika lidahku menekan klitorisnya kuat2. Dan jari-jariku makin mengocok liangnya. Semenit kemudian, Nita benar-benar orgasme, dan membuat mulutku basah kuyub dengan cairannya. Ia tersenyum lalu mengambil jari2ku yang basah dan menjilatinya sendiri dengan nikmat.
Ia lalu mendorongku duduk di atas toilet yg tertutup, Ia duduk bersimpuh dan mengulum ko**ol ku yang belum tegak benar. Jari-jarinya dengan lihay mengusap-ngusap bijiku dan sesekali menjilatnya. Baru sebentar saja, aku merasa akan keluar. Jilatan dan isapannya sangat kuat, memberikan sensasi aneh antara ngilu dan nikmat. Nita melepaskan pagutannya, dan langsung duduk di atas pangkuanku.
Ia bergerak- gerak sendiri mengocok penisku dengan penuh gairah. Dadanya naik turun dengan cepat, dan sesekali kucubit putingnya dengan keras. Ia tampak sangat menyukai sedikit kekerasan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berdiri dan mengangkat tubuhnya sehingga sekarang posisiku berdiri, dengan kakinya melingkar di pinggangku.
Kupegang pantatnya yang berisi dan mulai kukocok dengan kasar. Nita tampak sangat menyukainya. Ia mendesah-desah tertahan dan mendorong kepalaku ke dadanya. Karena gemas, kugigit dengan agak keras putingnya. Ia melenguh ,” Oh…gitu Mas..gigit seperti itu…aghhh…”
Kugigit dengan lebih keras puting kirinya, dan kurasakan asin sedikit di lidahku. Tapi tampaknya Nita makin terangsang. Ko**ol ku terus memompa liangnya dengan cepat, dan kurasakan liangnya semakin menyempit…
Ko**ol ku keluar masuk liangnya dengan lebih cepat, dan tiba-tiba mata Nita merem melek, dan ia semakin menggila, lenguhan dan desahannya semakin kencang hingga aku harus menutup mulutnya dengan sebelah tangannku.
” Ah Maass…Ehmm… Arghh…Arghhh…Ohhhhh uhhhhhh…” Nita orgasme untuk kesekian kalinya dan terkulai ke bahuku.
Karena aku masih belum keluar, aku mencabut penisku dari liangnya yang banjir cairannya, dan membalikan tubuhnya menghadap toilet. Biasa kalau habis minum staminaku memang suka lebih gila. Nita tampak mengerti maksudku, ia menunggingkan pantatnya, dan langsung kutusuk ko**ol ku ke liangnya dari belakang. Ia mengeram senang, dan aku bisa melihat seluruh tubuhnya dari cermin di depan kami. Ia tampak terangsang, seksi dan acak-acakan.
Aku mulai memompa liangnya dengan pelan, lalu makin cepat, dan tangan kiriku meraih puting payudaranya, dan memilinnya dengan kasar, sementara tangan kananku sesekali menepuk keras pantatnya. Ko**ol ku makin cepat menusuk2 liangnya yang semakin lama semakin terasa licin. Tanganku berpindah-pindah, kadang mengusap-ngusap klitorisnya dengan cepat.
Badan Nita naik turun sesuai irama kocokanku, dan penisku semakin tegang dan terus menghantam liangnya dari belakang. Ia mau orgasme lagi, rupanya, karena wajahnya menegang dan ia mengarahkan tanganku mengusap klitorisnya dengan lebih cepat.
Penisku terasa makin becek oleh cairan liangnya.
“Nita..aku juga mau keluar nih….”
” oh tahan dulu…kasih aku….ko**ol mu….tahan!!!!
“Nita langsung membalikan tubuhnya, dan mencaplok ko**ol ku dengan rakus. Ia mengulumnya naik turun dengan cepat seperti permen, dan dalam itungan detik, menyemprotlah cairan maniku ke dalam mulutnya.
” ArGGGhhhh!! Oh yes !! ” erangku tertahan.
Nita menyedot ko**ol ku dengan nikmat, menyisakan sedikit rasa ngilu pada ujung penisku, tapi ia tidak peduli, tangan kirinya menekan buah zakar ku dan kanannya mengocok ko**ol ku dengan gerakan makin pelan. Kakiku lemas dan aku terduduk di kursi toilet yg tertutup. Nita berlutut dan menjilati seluruh ko**ol ku dengan rakus.
Setelah Nita menjilat bersih Ko**ol ku, ia memakaikan handukku, lalu memakai handuknya sendiri. Ia memberi isyarat agar aku tidak bersuara, lalu perlahan-lahan membuka pintu kamar mandi. Setelah yakin aman, ia keluar dan aku mengikutinya dari belakang. Setelah kejadian itu aku sama Nita semakin gila-gilaan dalam bermain seks sampai dengan ibu kosku kembali dari Surabaya tentunya aku hanya bisa melakukannya di malam hari. Nita, wanita muda yang butuh belain bukan tamparan. Sekali lagi sungguh aku beruntung bisa membantunya, meskipun aku telah berdosa sudah meniduri istri orang.

Pijatan Spesial Buat Istriku


Bali adalah daerah yang akan menjadi tujuan liburan kali ini. Disinilah cerita panas yang sangat seru terjadi. Istriku memang dari dulu ingin melakukan fantasi pesta seks.
Sejak merapat di dermaga Gilimanuk, Anna istriku berulang ulang mengeluhkan badan nya pegal pegal setelah kami habiskan hampir enambelas jam perjalanan menggunakan Terios tosca kami. Aku hanya bisa menenangkan dirinya dengan memohonnya untuk sedikit bersabar karena perjalanan menuju Denpasar tinggal beberapa jam lagi.
“ Papa sih! Diajak naik pesawat aja ngga mau….!!!” Omelnya sembari menciutkan wajahnya yang cantik.
“ Sorry Say… aku hanya berpikir eman eman mesti membuang buang duit buat tiket pesawat…. Juga mesti sewa mobil ….khan uangnya bisa kita pake buat yang lain biar kita bisa menikmati liburan kita sepuas puasnya…..” Jawabku mencoba menetralisir.
Ia mengehela napas panjang. Terasa sekali atmosfir kekesalan dan kejenuhannya.
Kemudian ia meraih tas tangannya yang diletakkan di jok belakang yang kosong. Ia mengeluarkan sebungkus rokok LA light menthol kegemarannya. Ia kuakkan sedikit jendela mobil sekedar cukup membuang asap rokoknya.
“ Papa nanti mesti carikan pemijat nih!!!” ujarnya ketus dengan muka yang masih ditekuk.
“ Ya…ya …” jawabku sembari melempar sebuah senyum mesra padanya.
Anna tidak menggubris malahan ia memalingkan wajahnya kearah kiri. Ia lebih memilih melayangkan pandangannya pada panorama senja yang kami lalui. Juga pura pura kecil yang berjajar disepanjang perjalanan itu. Tepat jam tujuh waktu setempat, kami masuk ko ta Denpasar. Langsung kugiring Teriosku kesebuah hotel yang telah kupesan lewat tele phone dikawasan Legian. Hotel berbintang tiga yang berdampingan langsung dengan pantai.
Sesampai dikamar, nuansa romantis pulau Bali sekonyong konyong menyergap sukmaku dan membangkitkan gairah untuk bercinta. Kulihat istirku sudah menanggalkan kaos you can see dan hotpansnya dan seperti akan menggantinya dengan sebuah gaun tidur. Ia berdiri membelakangi hanya berpenutup tubuh sebuah celana dalam krem berenda. Diusi anya yang ketigapuluh limaan ia masih memiliki bentuk tubuh yang sangat indah dengan tonjolan pantat yang berisi. Libidoku semakin naik keubun ubun saat menatapnya lebih lama sehingga tanpa bisa kutahan kudekati dirinya dan mencoba memeluknya dari arah belakang.
Kutempelkan bibirku pada tengkuknya sebagai pembuka ajakanku untuk bercinta. Tetapi Anna berusaha berkelit dan memaksakan diri memasang daster pada tubuhnya. Kucoba menahan tangannya sambil meneruskan ciuman ciumanku pada bagian bawah cuping teli nganya seperti yang biasa ia sukai, namun ia malahan bereaksi sebaliknya.
“ Papa aku mau mandi dulu!” protesnya seraya memutar badannya mengaha dap kearahku.
“ Ayolah Sayang! Aku sudah kebelet banget nih! “ rajukku sedikit memaksa.
Anna berusaha melepaskan diri lalu ngeloyor kekamar mandi meninggalkanku begitu saja.
“ Tadi Papa sudah janji nyarikan pemijat khan?” tagihnya.
Belum sempat aku menjawab ia sudah menyambung sebelum ia tutup pintu kamar mandi, “ selesai mandi pemijatnya harus sudah siap, Paaa!”.
“ Ya…ya….” Jawabku sedikit kesal juga karena ajakanku tidak diturutinya.
Kemudian kulangkahkan kaki menuju lobby hotel mencari info pemijat yang bisa aku sewa. Seorang receptionist perempuan menyambutku dengan sangat bersahabat.
“ Buat istri!” jawabku ketika ditanya siapa gadis yang membutuhkan jasa pemijat.
Perempuan itu menyodorkan sebuah album photo mempersilahkan aku untuk memilihnya
Kulihat album itu berisi foto beberapa lelaki muda berpostur atletis. Aku sempat ragu lalu kusodorkan kembali pada gadis itu.
“ Jangan ragu pak! Cowoq cowoq pemijat kami dijamin professional! Pasti istri bapak akan puas….” Ujarnya berusaha meyakinkanku.
“ Hah??? Puas??? Maksudnya????” tanyaku dalam hati.
“ Belum pernah menyewa yang beginiani, Pak?” sambung gadis itu dengan panda ngan matanya yang sedikit nakal.
Aku menjawabnya dengan sebuah gelengan kepala.
“ Jadikan ini sebuah kejutan buat istri bapak! Dijamin istri bapak pasti senang….” Ujarnya berusaha terus memaksakan tawarannya.
“ Cowoq cowoq kami dijamin “bersih” Pak! Jangan kuatir” celotehnya.
Aku jadi teringat kata kata istriku beberapa minggu saat kami nonton bokep.
“ Gimana rasanya di masukin kontol sepanjang itu ya Pa?”
“ Mestinya enak, Ma! Pingin nih?” godaku
“ kalau diijinin….” Jawabnya sangat lirih dan ragu ragu.
Ketika ku shrarekan dengan beberapa temen mereka pada menganjurkan mencoba pijat pasutri, kebanyakan sudah mencoba dan istri istri mereka jadi tambah cinta katanya. Akhirnya kuterima juga tawarannya hitung hitung sebagai variasi demi membahagiakan istri sendiri sekalian buat membutikan omongan temen temen.
Kutinggalkan lobby setelah kupilih seorang lelaki yang kuanggap memenuhi selera istri ku tercinta. Lelaki ganteng type bule dan berperawakan tinggi besar. Ketika sampai dikamar kulihat istriku sudah selesai mandi dan sedang merias wajah didepan kaca rias, dengan hanya melilitkan sebuah handuk ditubuhnya yang sintal.
“ Sudah dapat pemijatnya, Pa?” tanyanya sepontan.
“ Ya…Tunggu sebentar……” jawabku sambil berjalan menuju sofa.
“ Milih yang pijatannya enak khan Pap? Tidak kasar….tapi kuat?”
“ Ya…lembut mainnya tapi kuat sodokannya, aku paham koq seleramu, Mam! Pasti deh kamu puas……”
“ Maksud Papa???” tanyanya sambil memelototkan mata dipenuhi tanda tanya.
“ Maksudku….. jadi lega gitu loh. Ma…” kucoba memperhalus.
Kunyalakan tivi lalu ngobrol santai di sofa. Sekitar lima menit kemudian, terdengar pintu diketuk. Akupun bangkit. Seorang lelaki muda bertubuh tegap dengan tinggi sekitar seratus delapanpuluhan centi telah berdiri disana. Ia tersenyum sangat ramah dan sangat bersahabat. Wajah dan postur tubuhnya tidak berebeda jauh dengan fotonya tadi.
“ Malam Oom! Saya Nicko… Massuerboy yang Oom pesan tadi” sapanya sopan.
“ Oh! Malam! Yuk Masuk!”
Lelaki itupun dengan sangat sopan melangkah masuk. Ia melayangkan pandangannya kearah istriku sembari melemparkan senyum.
“ Ini Nicko, Mam! Pemijat yang Papa pesan….” Kataku memperkenalkan setelah kami bergabung. Keduanya bersalaman dan Nicko mencium tangan istriku dengan mesra.
“ Senang sekali bisa bertemu bidadari sesexy dan secantik Anda…..” katanya men coba menebar rayuan maut.
Kulihat istriku tersipu malu sekaligus bangga mendengar pujian dari lelaki ganteng yang belum dikenalnya. Ia melirik kearahku dengan tatapan bingung, seakan meminta penje lasan arti semua ini.
“ Malam ini kita coba variasi yang lain ya, Mam?” sahutku sembari mengerling penuh arti. Istriku hanya bisa memandangiku dengan bengong.
“ Bagaimana Tante cantik? Apa bisa kita mulai pemijatan sekarang?” usul Nicko menawarkan diri.
“ Ayolah Mam! Nikmati aja!” ujarku menyemangati sambil menarik tangannya la lu membimbingnya keranjang. Anna akhirnya mau merebahkan diri menelungkup diran jang dengan berbalut sebuah handuk mandi. Ia terus memandangiku dengan tatapan yang sama. Kubelai belai rambutnya sambil mengatakan,” it’s okey Dear! Let it be…..!”.
Nicko lebih dahulu menuangkan minyak khusus ditelapak tangannya lalu ia lumurkan pa da kedua tungkai kaki Istriku. Setelah terlumasi dengan sempurna Nicko mulai memijit diawali dari telapak kakinya Dari olah tangannya terlihat pemuda itu benar benar profesio nal. Kutanyakan bagaimana pijatan Nicko, Anna jawab sangat enak. Tangan lelaki itu kini digeserkan semakin naik menjelajahi betis dan paha istriku yang mulus terawat.
Sedang asyik asyiknya memandangi aku dikagetkan suara dering ponselku yang kuletak kan diatas meja rias. Dari big boss ternyata. Sialan bener! Masak ngegaggu saat liburan seperti ini.
“ Sorry Dani! Terpaksa gua telephone elu! proporsal pengajuan proyek “ Mega Dip” ( Maksudnya proyek pembangunan apartemen mewah di jalan Diponegoro )nya apa udah elu e mail ?”
“ ya… ya pak! Sejak kamis lalu….” Jawabku seraya melangkah keluar menuju ke teras balkon agar tidak mengganggu Ana yang lagi menikmati pijatan Nicko.
Lebih dari seperempat jam kuhabiskan waktu berdikusi dengan big boss hingga beliau puas dengan keteranganku karena proyek yang sedang kami tangani saat itu memang ber- nilai sangat besar.
Ketika aku kembali masuk kekamar, aku sempat merinding juga menyaksikan tubuh istriku yang telah dalam keadaan telanjang bulat dalam posisi telungkup sedang diurut urut tangan lelaki itu dibagian pundak dan punggungnya. Handuk yang tadi dililitkan ditubuhnya kini tampak tergolek begitu saja dikarpet seperti habis dilemparkan.
Sementara itu pemuda itupun telah melepas pakaiannya dan hanya menyisakan celana dalamnya saja. Lelaki itu kelihatan sangat terangsang menyaksikan kemolekan tubuh telanjang istriku yang sedang dipijitnya. Otot diselakangannya tampak menonjol dari ba lik celana dalamnya yang ketat dalam kondisi yang sudah sangat tegang. WOW! Sangat panjang barangkali delapan sampai duapuluhan centi.
Kudengar Anna mulai mendesah pelan ketika tangan Nicko mendarat pada bongkahan pantatnya. Tangan itu terus meremas remas dengan tehnik tertentu yang kelihatan sangat nyaman rasanya. Sesekali ia sengaja di plesetkan tangannya kebawah hingga menyentuh bibir kemaluan istriku. Berulang ulang itu dilakukannya sampai Anna harus mengangkat angkat pinggulnya saking geregetan. Nicko benar benar pria yang luarbiasa dalam mensti mulasi birahi wanita. Terdengar berulang ulang erangan nikmat Istriku sembari membe namkan mukanya dalam dalam pada bantal.
Suatu saat Nicko memintanya berbalik. Istriku menurut saja dan tidak mempedulikan ke hadiranku lagi. Dirinya seperti sudah terhipnotis kemampuan lelaki itu.Ia terlentang deng an sangat pasrah terlihat seperti sangat mengaharapkan pemuda itu meningkatkan level kenikmatan yang diberikanya. Nicko mendaratkan telapak tangannya di seputar payuda ranya yang montok dan kencang.
“ Buahdada Tante sangat merangsang…….” Rayu Nicko sambil mulai memain-kan jari jari ajaibnya.
Seluruh dada istriku tampak mengkilat dilumasi minyak yang sangat bening Sampai pada putingsusunya yang mulai mengeras dan mendongak. Terlihat begitu merangsang! Dan
Nicko terus menggerakkan jarinya naik turun memutar mutar laksana pemain iceketting yang tengah meluncur luncur diatas hamparan es yang licin. Pemuda itu benar benar hebat dalam mengexplorasi kenikmatan diseputar payudara Istriku. Anna memejamkan mata, mendongakkan kepala, dan mengangakan mulutnya sangat menikmati setiap sentuhan Nicko.Kini pemuda itu bergerak turun melintas diperut lalu bulu bulu lebat didaerah segitiga dan daerah lipatan paha. Ana semakin kelonjotan didera birahi. Ia menggerinjalkan badannya sembari melenguh nikmat tatkala Nicko sesekali meraba bibir vaginanya.
Berkecamuk dalam diriku antara perasaan cemburu dan nafsu. Disuatu saat aku ingin menghentikannya namun disaat lain aku lebih suka menonton. Namun setiap kali kulihat ekspresi kenikmatan istriku rasa cemburu dan tidak nyaman itu berangsur berubah karena aku sebagai suami merasa bisa memberinya kado yang sangat istimewa. Apalagi saat me ndengar setiap desahan erotisnya yang sungguh merangsang kelelakianku membuat aku lebih memilih ikut menikmatinya.
Suatu saat saking tidak tahan lagi oleh dorongan nafsu sexual dalam dirinya, Anna menju lurkan tangan meraih kepala Nicko lalu ditariknya kebawah menuju selakangannya yang telah dibuka lebar lebar.
“ Sekarang cumbuin aku, Nickkk!!!: pintanya dengan suara yang gemetaran mena han gairah yang siap meledak kapanpun.
Liang vaginanya terlihat sangat basah dipenuhi lendir asmara. Bibir vaginanya telah mere kah bak kuncup bunga yang sedang mekar. Nicko langsung menjawab undangan cinta Istriku.Ia benamkan muka diselakangan istriku. Mengendus enduskan sejenak ujung hi-dungnya yang mancung pada bulu bulu kemaluan yang dibiarkan tumbuh lebat. Nicko menjulurkan lidah kemudian mulai melumat liang berlendir itu penuh nafsu. Anna meng gelinjang gelinjang bak cacing kepanasan disertai desahan desahan yang membangkitkan nafsu. Ia benar benar sedang mabuk birahi.
Kuputuskan untuk ikut bergabung dengan menghampirinya.Kubenamkan wajah pada be-lahan buahdadanya yang montok. Kuciumi dan kujilati dengan sangat bernafsu.
“ Nick….Oh! Nick! Masuki aku sekarangg…..ohhhh!” seru Istriku.
Nicko langsung bereaksi. Ia tarik lepas celana dalamnya mengeluarkan magnum laras pan jangnya lalu menggiringnya ke liang syahwat Istriku yang sudah menunggu dimasukinya. Kemudian ia dorong hingga terbenam seluruhnya, “ BLESHHHH!”.
“ Ahhkgggggggg!……….” pekik Anna saat G spotnya tertubruk ujung penis Nicko.
Nicko mulai dengan tusukan tusukan yang perlahan tapi dalam yang terus menyodok tonjolan G spotnya kemudian ia gerakkan batang kemaluannya keluar masuk dalam ira-ma yang tetap. Aku masih mengulum dan menghisapi puttingsusunya. Sesekali kugigit gigit lembut. Serangan kami berdua benar benar tepat sasaran. Anna tampak semakin te-rangsang dan mendekati puncak tertingginya. Tiba tiba Nicko mempercepat dan memper kuat sodokannya Istriku menggelinjang gelinjang histeris hingga kedua buahdadanya ik-ut terpental pental naik turun.
Sampai akhirnya,……… Anna menjerit panjang ketika mencapai klimaks “Aaaaaaaaaa aaa…..gggghh……………!”.
Setelah mereda Nicko mencoba memanaskan kembali gairah Istirku dengan menjilati kembali vaginanya Sementara itu aku sudah sedemikian terangsang. Kubuka celana lalu kusodorkan batang kemaluanku yang sudah sangat tegang kemulut Istirku. Anna menyambutnya dengan sangat bersemangat lebih dari biasanya. Ia jilati seluruh dengan sangat mesra. Kemudian ia masukkan kedalam mulutnya. Kupejamkan mataku ketika ia mengeluar masukkannya sambil sesekali menyedot dengan kuat.
Tidak lama gairah Istirku telah kembali menyala. Ia meminta Nicko menyetubuhinya lagi sementara mulutnya mengulum batang kemaluanku. Kali ini Nicko langsung menyerbu dengan sodokan sodokan yang cepat. Saking semangatnya hingga kantung zakarnya menepuk nepuk selakangan Istriku dan menimbulkan bunyi yang cukup keras,…………..
……… “ Plok! PLok! Plok!”.
Selang beberapa menit tubuh Istriku terasa mengejang. Perutnya tampak bergetar hebat. Dan lewat sebuah pekikan panjangggg ia sambut klimaks keduanya, “ Aaaaarrrrghhhhhh hhhhhhhhhhhh……………………!!!”. Matanya terbeliak beliak seperti sedang tersengat berjuta juta volt kenikmatan
Sejenak kemudian ketegangannya mereda. Nicko turun dari tubuh Istriku penisnya masih tampak menegang dan belum ejakulasi. Ia memberiku giliran untuk menyetubuhi Istriku yang cantik. Kurengkuh tubuhnya lalu kutelentangkan ditepi ranjang. Kurentangkan ke dua kakinya lebar lebar hingga muncul liang syahwatnya yang terlihat melongo sehabis dijejali kemaluan Nicko.Sisa sisa lendir orgasmenya yang berwara putih kental meleleh di bawah celah itu. Persis seperti setangkup burger bermayonness. Pemandangan itu membangkitkan rasa lapar birahiku. Dengan gemas kulesakkan batang kemaluanku kedalam liang kenikmatannya, “ BLESHHHH!!!!”. Kemudian kukayuh pinggul maju mundur dengan kuat dan tempo yang cepat.
Sementara itu Nicko telah menempatkan dirinya disamping Istirku dan menyodorkan ba tang kemaluannya. Anna meraup dengan sepontan dan menyambutnya dengan jilatan jila tan yang rakus. Nicko mengulurkan tangannya kearah selakangan Istirku. Ia gunakan jari tengahnya untuk menggesek kelentit Istirku sementara aku menggejot liangnya penuh nafsu. Anna melengkungkan punggungnya penuh rasa nikmat. Berulang ulang ia meng erang memintaku agar memperkuat tusukanku dan meminta Nicko mempercepat gosokannya. Tak lama Anna terasa mengejankan tubuhnya disertai jeritan penuh kepu asan. Dinding dinding dalam vaginanya terasa mencengkeram kuat kuat batang kemalu anku!.
Beberapa detik………….
Sampai lendir orgasmenya memancar keluar dan membasahi seluruh batang kemaluanku.
Kami berganti posisi lagi. Aku duduk ditepi ranjang sedang Anna membungkuk tepat di depanku dan menggenggam erat batang kemaluanku. Ia menjilat, mengulum, menghisap dan menggosoknya dengan cepat. Nicko menghampiri pinggul istriku yang menungging menghadap kearahnya. Matanya melotot menatap bongkahan indah vagina yang menyem bul tepat dibawah belahan pantat. Ia merendahkan tubuhnya lalu melumat vagina Istriku dari belakang. Setelah memastikan segalanya siap kembali Nicko menyodok vagina Istri ku dari arah belakang. Ia membombardir dengan tusukan tusukan yang kuat dan sangat ce pat. Kuselipkan tangan pada selakangan Istriku menggelitik kelentitnya.
Anna memeluk pinggangku dengan kuat sambil membenamkan mukanya diselakanganku setiap kali Nicko menghujamkan penis panjangnya sedalam dalamnya. Batang kemaluan ku yang ada dalam kuluman mulutnya terperosok lebih dalam hingga menyentuh pangkal lidahnya setiap kali Nicko mendorong kuat kedepan.
“ Ya….ya…. lebih kuattttt! Lebih kuattttt!…………” cercau Istriku memberi sema-ngat.
Dan suatu kali kembali Anna mengejang!. Sedangkan Nicko masih terus menyerbunya de ngan ganas. Anna menjerit sejadi jadinya sambil mengangkat pinggulnya saat dirinya dile cut orgasme yang keempat.Hampir bersamaan terdengar lenguhan keras Nicko. Ia hujam kan penisnya sedalam dalamnya menjelang ejakulasi. Selanjutnya dengan sangat cepat ia cabut menggenggamnya lalu memuntahkan spermanya pada celah pantat Istriku sambil menggeram bak seekor gorilla jantan yang menang dalam pertarungan.
Anna dengan sangat lahap kembali mengulum batang kemaluanku yang masih ada dalam gengamannya. Sedotan dan jilatannya yang ahli memojokkan dan memaksaku untuk sege ra menyerah. Tangannya kini ikut mengocok dengan sangat cepat
“ Ayolah Sayangggg! Semburkan manimuuu!…..” cercaunya.
Ia merancapiku semakin cepat…..menghisap semakin kuat!.Sampai akhirnya ujung penis ku menggeliat geliat!!!. Berkelonjotan sebentar kemudian menyemburlah cairan cintaku berulangkali dalam mulutnya. Kupejamkan mata dan menggeram sekeras kerasnya saat kurasakan Anna menyedot setiap pancaran maniku. Luar biasaaaaaaa…….
.
Setelah mereda kami bertiga menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sambil beren dam di bath tube yang sudah kami isi dengan air hangat. Anna bergelayut manja dipangkuan Nicko sedang aku duduk diseberang mereka. Sembari berendam kulihat mulut Nicko tidak mau lepas dari payudara Istriku. Lelaki itu agaknya sangat terobsesi dengan keseksian tubuh Istriku dan terus ingin menikmatinya. Anna membiarkannya bahkan tampak sangat menikmati. Kini keduanya tengah terlibat adu bibir saling mema gut dan saling menjilat penuh hasrat. Sementara itu tangan Nicko tanpa henti meremasi payudaranya.
Dengan posisi seperti itu memaksa Anna menunggingkan pinggulnya. Tepat menghadap kearahku. .Dapat kulihat celah vaginanya yang sangat menggoda. Merekah dan basah mengkilat oleh lendir. Kubasahi sebuah jari tengahku dengan ludah lalu kugelitiki kelen titnya lewat bongkahan pantatnya yang semok. Lendir birahi semakin banyak meleleh keluar membanjiri celah itu pertanda siap dimasuki.
“ Ayolah Pa…. masukin dong kontolmu!” pintanya dengan nada yang sangat man ja. Kubimbing batang kemaluanku lalu kumasuki liang syurganya dari arah belakang. sementara Istirku masih asyik berciuman dengan Nicko. Anna langsung mendesah erotis saat kugerakkan penisku keluar masuk. Vaginanya memang terasa sangat nikmat tidak berubah sejak pernikahan kami beberapa tahun lalu. Bahkan menjadi lebih nikmat dalam posisi doggy style seperti itu. Namun aku tidak mau cepat selesai dan cepat cepat ejakula si, sehingga kuputuskan untuk menarik tubuh Istriku keujung bak tanpa melepas batang kemaluanku dari vaginanya. Aku duduk dibawah sedang ia mengangkang diatas dalam posisi membelakangi . Ia kini yang aktif menggali kenikmatan dengan menggerakkan pinggulnya naik turun dengan giat. Kupegang kedua pinggangnya dengan mantap untuk menjaga kesetabilan dirinya yang terus bergerak dengan sangat liar diatas pangkanku. Nicko memilih menghisapi putingsusu Istriku dengan mulut dan menggelitiki kelentitnya dengan jari. Aku dan istriku terus saling membagi kenikmatan. sampai terdengar kembali jeritan kepuasan Istriku yang segera kususul dengan pancaran dahsyat didalam himpitan liang yang sarat dengan kenikmatan itu.
“ Crotttt! Crotttt! Crottt!………………..” sangat banyak yang kumuntahkan hingga meleleh keluar dari celah vaginanya.
Setelah selesai Nicko membantu membersihkan bagian intim Istriku dengan air bak yang hangat kemudian ia angkat tubuh bugil itu menuju kamar tidur. Aku mengganti air bak de ngan air baru lalu kupakai berendam untuk menyegarkan keletihanku. Kunikmati benar saat air hangat itu merayap keseluruh permukaan kulitku dan membuka simpul simpul ke letihanku. Sayup sayup kudengar rintihan erotis Istriku.
“ Eeeeeeghhh…… eeeeeghhh…..eeehhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhh…………….!”
Sialan! Rupanya Nicko tak mau merelkankan tubuh Istriku menganggur barang sejenak pun. Sejak kejadian itu, hubungan suami istri antara kami semakin harmonis. Memang dalam mencapai keharmonisan bisa dicoba jalan yang sedikit berliku, asal saling memahami satu sama lain.

Selasa, 02 Agustus 2011

MAKIN BERGAIRAH BERKAT PIJAT EROTIS



MAKIN BERGAIRAH BERKAT PIJAT EROTIS

Variasi bercinta dengan pijatan membuat tubuh lebih bugar dan siap menggapai "puncak".
Variasi seks akan menentukan kualitas hubungan intim. Semakin banyak variasinya, kemungkinan semakin menggairahkan pula hubungan tersebut. Pendapat ini tentu saja bukan basa-basi karena sebagai manusia normal, kita pasti memiliki kecenderungan untuk menjauhi apa pun yang sifatnya monoton alias itu-itu saja. Meskipun ayam panggang itu enak, contohnya, mustahil kan kita mau melahapnya dari waktu ke waktu setiap hari selama berbulan-bulan. Demikian juga untuk urusan seks. Berbagai variasi dilakukan agar hubungan yang semula dingin kembali menghangat. Sementara yang hangat akan semakin membara. Salah satu variasi seks yang bisa dimanfaatkan adalah pijat erotis suami-istri. Aktivitas ini dianjurkan sebelum pasangan melakukan hubungan intim sebagai foreplay.
Bagi pasangan yang keduanya sama-sama sibuk bekerja, variasi pemanasan ini memberi manfaat penting yang tidak sedikit. Salah satunya membangun suasana erotik di antara suami-istri sebelum bercinta. Adanya sentuhan di sekujur tubuh tentulah bisa memacu gairah.
Tidak cuma itu, letih dan lelah serta pikiran yang sumpek sehabis bekerja dijamin bisa hilang dengan pijatan. Peredaran darah kembali lancar yang selanjutnya membuat tubuh segar dan bugar sehabis dipijat. Nah, dengan kondisi fisik seperti ini, hubungan seksual tentu bisa dinikmati secara menyenangkan oleh kedua belah pihak.
Selain itu, foreplay berupa pemanasan lewat pijatan akan sangat membantu membuat tubuh siap tempur. Ibarat mobil, sebelum dikemudikan, tentu perlu dipanaskan terlebih dulu agar kondisinya terjaga. Hal yang kurang lebih sama juga berlaku dalam kehidupan seksual. Sebelum mencapai puncak kenikmatan, masing-masing pihak hendaknya benar-benar siap, hingga seluruh rangkaian aktivitas bercinta bisa berlangsung menyenangkan.Tentunya anda harus memilih jasa pijat erotis yang berpengalaman dan profesional, biar aktifitas intim anda semakin hangat dan nyaman.......